Laman utama Laut Bercerita

Laut Bercerita

5.0 / 5.0
Sukakah Anda buku ini?
Bagaimana kualitas file yang diunduh?
Unduh buku untuk menilai kualitasnya
Bagaimana kualitas file yang diunduh?
Jakarta, Maret 1998 Di sebuah senja, di sebuah rumah susun di Jakarta, mahasiswa bernama Biru Laut disergap empat lelaki tak dikenal. Bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia dibawa ke sebuah tempat yang tak dikenal. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum agara bersedia menjawab satu pertanyaan penting: siapakah yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu. Jakarta, Juni 1998 Keluarga Arya Wibisono, seperti biasa, pada hari Minggu sore memasak bersama, menyediakan makanan kesukaan Biru Laut. Sang ayah akan meletakkan satu piring untuk dirinya, satu piring untuk sang ibu, Biru Laut, dan satu piring untuk si bungsu Asmara Jati. Mereka duduk menanti dan menanti. Tapi Biru Laut tak kunjung muncul. Jakarta, 2000 Asmara Jati, adik Biru Laut, beserta Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana mencoba mencari jejak mereka yang hilang serta merekam dan mempelajari testimoni mereka yang kembali. Anjani, kekasih Laut, para orangtua dan istri aktivis yang hilang menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka. Sementara Biru Laut, dari dasar laut yang sunyi bercerita kepada kita, kepada dunia tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kawan-kawannya. Laut Bercerita, novel terbaru Leila S. Chudori, bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah keluarga yang mencari kejelasan makam anaknya, dan tentang cinta yang tak akan luntur.
Tahun:
2017
Penerbit:
Gramedia Pustaka Utama
Bahasa:
indonesian
Halaman:
390
ISBN 10:
6024246943
ISBN 13:
9786024246945
File:
PDF, 2,59 MB
Mengunduh (pdf, 2,59 MB)

Mungkin Anda tertarik Powered by Rec2Me

 

Istilah kunci

 
4 comments
 
Afif efotz
Laman ini sanagt bermanfaat terus ditingkatkan dan kalo bisa tolong roman 1001 malam di post kan
02 June 2021 (06:17) 
beda frekuensi
novel beda frekuensi karya umi astuti
26 June 2021 (12:36) 
RM BTS
Saya pernah baca buku laut bercerita wow bagus sekali! Saya suka penulis dari Indonesia!!!!
16 July 2021 (07:48) 
sensor
Novel yang sangat luar biasa...
Kisah yg diangkat menjadi pengingat bagi sya personally untuk bisa lebih menghargai prjuangan para pahlwan termasuk aktivis. Feel yg digambarkan dalam crita ini dapat sekali. Cara penulis menggambarkan citra kekeluargaan, persahbatan, prjuangan hingga pnyiksaan dan penantian sngat realistis shingga mnggiring kita untuk merasakan emosi si Penulis. Slah satu novel terkeren yg prnah sya baca.
27 September 2021 (11:55) 

To post a review, please sign in or sign up
Anda dapat meninggalkan komentar Anda tentang buku dan berbagi pengalaman Anda. Pembaca lain tertarik untuk mengetahui pendapat Anda tentang buku yang telah Anda baca. Terlepas Anda suka atau tidak buku itu, jika Anda menceritakan secara jujur dan mendetil, orang dapat menemukan buku baru buat diri mereka, buku yang sesuai dengan minatnya.
1

Malam Terakhir

Tahun:
2013
Bahasa:
indonesian
File:
PDF, 1,35 MB
5.0 / 5.0
2

9 dari Nadira

Tahun:
2009
Bahasa:
indonesian
File:
PDF, 3,65 MB
0 / 0
Laut Bercerita

Undang-Undang Republik Indonesia
Nom or 28 Tahun 20 14 tentang Hak Cipta
Lingkup Hak Cipta
Pasal 1
Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang tim bul secara otom atis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan
diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa m engurangi pem batasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ketentuan Pidana
Pasal 113
(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak m elakukan pelanggaran hak ekonom i sebagaim ana dim aksud dalam Pasal 9 ayat
(1) huruf i untuk Penggunaan Secara Kom ersial dipidana dengan pidana penjara paling lam a 1 (satu) tahun dan/ atau
pidana denda paling banyak Rp10 0 .0 0 0 .0 0 0 (seratus juta rupiah).
(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/ atau tanpa izin Pencipta atau pem egang Hak Cipta m elakukan pelanggaran
hak ekonom i Pencipta sebagaim ana dim aksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/ atau huruf h
untuk Penggunaan Secara Kom ersial dipidana dengan pidana penjara paling lam a 3 (tiga) tahun dan/ atau pidana
denda paling banyak Rp50 0 .0 0 0 .0 0 0 ,0 0 (lim a ratus juta rupiah).
(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/ atau tanpa izin Pencipta atau pem egang Hak Cipta m ela kukan pelanggaran
hak ekonom i Pencipta sebagaim ana dim aksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/ atau huruf g
untuk Penggunaan Secara Kom ersial dipidana dengan pidana penjara paling lam a 4 (em pat) tahun dan/ atau pidana
denda paling banyak Rp1.0 0 0 .0 0 0 .0 0 0 ,0 0 (satu m iliar rupiah).
(4) Setiap Orang yang m em enuhi unsur sebagaim ana dim aksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pem bajakan,
dipidana dengan pidana penjara paling lam a 10 (sepuluh) tahun dan/ atau pidana denda paling banyak
Rp4.0 0 0 .0 0 0 .0 0 0 ,0 0 (em pat m iliar rupiah).

Laut Bercerita
LeiLa S. Chudori

Jakarta:
KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Jakarta

Laut Bercerita

©Leila S. Chudori
KPG 59 17 01418
Cetakan Pertama, Oktober 2017
Penyunting
Endah Sulwesi
Christina M. Udiani
Ilustrasi Sampul dan Isi
Widi Widiyatno
; Perancang Sampul
Aditya Putra
Penataletak
Landi A. Handwiko
Foto Pengarang
Faizal Amiru

CHUDORI, Leila S.
Laut Bercerita
Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2017
x + 379 hlm; 13,5 cm x 20 cm
ISBN: 978-602-424-694-5

Dicetak oleh PT Gramedia, Jakarta.
Isi di luar tanggung jawab percetakan.

Kepada mereka yang dihilangkan
dan tetap hidup selamanya

Untuk Rain Chudori-Soerjoatmodjo

Daftar isi

Prolog

1

I. Biru Laut

9

Seyegan, 1991

10

Di Sebuah tempat, di Dalam Gelap, 1998

50

ciputat, 1991

60

Di Sebuah tempat, di Dalam Keji, 1998

90

Blangguan, 1993

112

Di Sebuah tempat, di Dalam Laknat, 1998

143

terminal Bungurasih, 1993

161

Di Sebuah tempat, di Dalam Khianat, 1998

188

rumah Susun Klender, Jakarta, 1996

196

Di Sebuah tempat, di Dalam Kelam, 1998

222

II. Asmara Jati

231

ciputat, Jakarta, 2000

232

Pulau Seribu, 2000

266

tanah Kusir, 2000

308

Di Depan istana Negara, 2007

334

epilog:
Di Hadapan Laut, di Bawah Matahari

364

ucapan terima Kasih

374

tentang Penulis

378

Prolog

Matilah engkau mati
Kau akan lahir berkali-kali....

SanG Penyair pernah menulis sebait puisi ini di atas secarik
kertas lusuh. Saat itu dia masih berambut panjang menggapai
pundak dan bersuara parau karena banyak berorasi di hadapan
buruh. Ia menyelipkannya ke dalam sebuah buku tulis bersam­
pul hitam dan mengatakan itulah hadiah darinya untuk ulang
tahunku yang ke­25. Sembari mengepulkan asap rokoknya yang
menggelung­gelung ke udara, dia mengatakan aku harus selalu
bangkit, meski aku mati.
Tetapi hari ini, aku akan mati.
aku tak tahu apakah aku bisa bangkit.
Setelah hampir tiga bulan disekap dalam gelap, mereka
membawaku ke sebuah tempat. Hitam. Kelam. Selama tiga bulan

2

Laut Bercerita

mataku dibebat kain apak yang hanya sesekali dibuka saat aku
berurusan dengan tinja dan kencing.
aku ingat pembicaraanku dengan Sang Penyair. Dia berkata
bahwa dia tak takut pada gelap. Karena dalam hidup, ada terang
dan ada gelap. ada perempuan dan ada lelaki. “Gelap adalah
bagian dari alam,” kata Sang Penyair. Tetapi jangan sampai kita
mencapai titik kelam, karena kelam adalah tanda kita sudah
menyerah. Kelam adalah sebuah kepahitan, satu titik ketika kita
merasa hidup tak bisa dipertahankan lagi.
aku tak tahu apakah saat ini aku sedang mengalami ke­
gelapan. atau kekelaman.
Mataku dibebat. Tanganku diborgol. apakah ini gelap yang
kelak menjadi pagi yang lamat­lamat mengurai cahaya matahari
pagi; atau gelap seperti sumur yang tak menjanjikan dasar?
Selama sejam kami berputar­putar, aku sudah bisa menebak
ada empat lelaki yang mendampingiku. Setelah berbulan­bulan
mereka sekap di tempat yang gelap, aku sudah mulai mengenal
bau tubuh mereka. Satu lelaki menyetir yang jarang bersuara.
Seseorang di sebelahnya jarang mengeluarkan komentar kecuali
jika harus membentak kedua lelaki yang mengapit di kiri
kananku di kursi belakang. Dialah si Mata Merah, satu­satunya
dari mereka yang pernah kulihat wajahnya dan kukenali dari
bau rokok kreteknya yang menghambur dari mulutnya. Di
sebelah kanan dan kiriku pasti kedua lelaki besar yang biasa
kusebut Manusia Pohon dan si Raksasa yang mengirim bau
keringat tengik. Inilah celakanya jika sejak kecil kita diajarkan
menajamkan indra penciuman karena Ibu adalah seorang koki
yang dahsyat. Dalam sekejap aku bisa membedakan aroma tubuh
satu orang dengan yang lainnya.

LeiLa S. cHuDori

3

Setelah lebih dari sejam kami berada di atas mobil dengan
mata yang masih ditutup dan tangan terikat, akhirnya si
Manusia Pohon menarikku keluar mobil dan bersama yang lain
menggiringku ke sebuah tempat, udara terbuka. aku ditendang
agar berjalan dengan lekas. Jalan semakin menanjak dan aku
mendengar debur ombak yang pecah. aku bisa mencium aroma
asin laut di antara angin yang mengacak rambut. Sekali lagi,
suara ombak yang deras itu pecah tak seirama. Di manakah aku?
apakah kami masih di wilayah Jakarta?
Karena aku sering berhenti untuk mengira­ngira lokasi, se­
buah tangan besar mendorong punggungku agar aku berjalan
lebih cepat. Setelah berjalan cukup jauh, kini salah satu dari
mereka berteriak agar aku menaiki sebuah speedboat. Bau asin
laut kembali menusuk cuping hidungku. Kudengar seseorang
menyalakan motor speedboat itu. Seseorang yang lain sekali lagi
menendang punggungku agar aku berlutut. Sial! Perlahan aku
mencoba duduk dan tampaknya mereka tak keberatan.
Begitu saja perahu motor itu melaju. Meski wajahku masih
tertutup karung, aku masih bisa merasakan cipratan air laut.
angin laut terasa menyelip di antara pori­pori kain karung yang
menyelimuti mukaku yang penuh darah dan luka. Pedih luka
bibir dan tulang hidungku yang patah semakin menggigit karena
asin air laut, tetapi angin yang menerpa itu terasa seperti sebuah
pembebasan. Debar jantung semakin menggedor–gedor dada
seolah ia siap mencelat keluar, tetapi aku mencoba menghadapi
suara permukaan laut yang dibelah perahu motor itu.
Tak terlalu lama, perahu motor terasa melambat. Mungkin
kami sudah tiba di tempat tujuan, entah pulau apa, aku tak tahu.
aku dipaksa turun. agak sulit berjalan di tepi tebing dengan

Laut Bercerita

4

kaki telanjang sementara aku bisa mendengar suara ombak dari
bawah sana. Sepasang kaki ini hanya setengah berfungsi karena
selalu menjadi sasaran ditindas kaki meja atau ditendang hingga
retak. Si Perokok berteriak dengan suara parau agar aku berjalan
dengan cepat.
Perjalanan semakin menanjak. Rasanya kami menaiki sebuah
bukit karang yang tak terlalu tinggi. aku masih bisa mendengar
bunyi ombak yang datang dan pergi.
Deburan pertama. Deburan kedua. Terdengar langkah sepatu
lars yang menginjak kerikil. Satu tangan yang besar membuka
bebat kain penutup mataku dengan kasar. Dengan pandangan
yang masih buram, mungkin terlalu lama menatap gelap, aku
baru menyadari bahwa kami berdiri di atas bukit karang di
tubir pantai. Ternyata matahari belum sepenuhnya turun. Jam
berapakah kini? Sudah senjakah ini? Pukul empat? Lima? Betapa
kosong dan sunyi pulau ini. Kulihat serombongan burung belibis
yang terbang rendah, mendekati dan mengusap permukaan laut.
Kini aku mahfum. Mereka telah membawaku ke tepi pantai, ke
tepi kematian.
Matilah engkau mati...
Kini mereka mengikat tanganku dengan besi pemberat.
Tangan kiri. Lalu tangan kanan. Sesekali aku menggeliat, ber­
usaha mencari celah dan kemungkinan meski akan berakhir sia­
sia. aku enggan memberikan tangan dan sengaja mengeraskan
kepalku. Salah satu dari mereka menabok mukaku. ah...
asinnya darah...
Kau akan mati. Demikian kata si Mata Merah dengan sem­
buran bau rokok. Tapi kau akan mati pelan­pelan. Mereka semua

LeiLa S. cHuDori

5

tertawa keras. aku mendengar kepak sayap serombongan burung.
Seolah mereka ingin membesarkan hatiku.
Si Mata Merah mendorongku melangkah maju. Mereka me­
nyerimpung kedua kakiku dengan besi hingga mustahil bagiku
untuk bergerak. akhirnya salah satu dari mereka menendang
betisku. aku tersungkur. Sekali lagi si perokok itu memegang
bahuku dari belakang dan memaksaku berlutut.
Tuhan, kita semakin dekat. Kau terasa semakin ingin me­
naungiku.
Pada debur ombak yang kesembilan, terdengar ledakan itu.
Tiba­tiba saja aku merasa ada sesuatu yang tajam menembus
punggungku. Pedih, perih. Lalu, belakang kepalaku. Seketika aku
masih merasakan sebatang kaki bersepatu gerigi yang menendang
punggungku. Tubuhku ditarik begitu lekas oleh arus dan bola
besi yang terikat pada pergelangan kakiku.
aku melayang­layang ke dasar lautan.
aku selalu menyangka, pada saat kematian tiba, akan ada
gempa atau gunung meletus dan daun­daun gugur. aku mem­
bayangkan dunia mengalami separuh kiamat. Mungkin tak
sedahsyat yang digambarkan cerita para orang tua, namun air
laut akan naik dan merayap menutupi bumi. Manusia, binatang,
dan segala makhluk hidup akan tenggelam. Karena itu, aku
mengira begitu aku tenggelam, kematianku akan menghasilkan
guncangan besar. atau bak Dewi Kali yang perlahan menarik
nyawaku dari tubuh seperti seuntai benang yang perlahan­lahan
ditarik dari sehelai kain tenun. Tenang tapi menghasilkan rasa
yang tak seimbang.

6

Laut Bercerita

Ternyata itu hanya ilusi. Kematianku tak lebih seperti saat
seorang penyair menuliskan tanda titik pada akhir kalimat
sajaknya. atau seperti saat listrik mendadak mati.
Hening. Begitu sunyi. Begitu sepi. aku tak relevan lagi.
Mungkin ini hanya imajinasi, tetapi aku mendengar cericit
burung. Mungkin mereka tengah merubung dan menggangsir
permukaan laut, sementara aku tenggelam ke dasar laut mengi­
kuti sentakan besi yang memberati kaki. Burung­burung itu men­
celupkan kepala ke dalam laut dan menjengukku, mengucapkan
selamat jalan sembari mencoba menjaga agar aku bisa mencapai
dasar laut dengan tenang.
Begitu saja, berkat doa para burung, aku sudah berada di
dasar laut. Dan begitu saja, ketika aku merasa dirubung oleh
ratusan ikan dara, ikan sersan mayor, lantas kepalaku berdebam
keras di atas salah satu koral otak. Mereka, rombongan ikan itu
menciumku, mungkin merasa belas kasih kepada mayat yang
begitu sia­sia.
Ini pasti sebuah ilusi, karena aku mendengar alunan musik,
mencium aroma masakan Ibu; aku mendengar suara Kinan
berdebat dengan Daniel; suara Sunu yang mencoba menengahi;
suara anjani yang halus mengusap telinga yang kemudian tergilas
oleh nyaringnya suara asmara. Itu semua perlahan menghilang
tergantikan suara langkah Bapak yang perlahan­lahan menuju
dapur sambil menanyakan apa yang sedang dimasak Ibu.
Lalu muncul kelebatan wajah Kinan yang memandangku
dengan sepasang matanya yang kecil dan menyemprotkan sinar.
Lantas muncul kelebatan wajah Sunu, alex, Daniel, dan anjani.
Entah mengapa aku melihat mereka semua di Rumah Hantu, di
Seyegan, di pojok Yogyakarta.

LeiLa S. cHuDori

7

Semua berbaur, saling berkelebatan seperti sebuah pemu­
taran ilm hitam putih yang dipercepat.
aku merasakan arus bawah laut itu berputar­putar meme­
lukku. Begitu erat, begitu hangat, seolah aku adalah bagian dari
laut ini.
Mungkin itu sebabnya Ibu dan Bapak memberiku nama
Biru Laut.
Semakin dalam, entah berapa ribu meter aku melayang me­
nuju dasar.
Dan akhirnya tubuhku berdebam melekat ke dasar laut,
di antara karang dan rumput laut disaksikan serombongan
ikan­ikan kecil yang tampaknya iba melihatku. aku menyadari:
aku telah mati. Tubuhku akan berada di dasar laut ini selama­
lamanya, dan jiwaku telah melayang entah ke mana. Sementara
ikan­ikan biru, kuning, ungu, jingga mencium pipiku; seekor
kuda laut melayang­layang di hadapanku, aku mendengar suara
ketukan yang keras. Sebuah ketukan pada sebilah papan kayu….
Bapak, Ibu, asmara, anjani, dan kawan­kawan...dengarkan
ceritaku….

i. Biru Laut

Seyegan, 1991

SuaRa ketukan itu berirama.
aku baru menyadari, bunyi ketukan halus itu datang dari
jari­jari Sunu pada pintu calon rumah kami di Seyegan, di sebuah
pojok terpencil di Yogyakarta.
ah…rambut Sunu masih pendek dan rapi. Tahun berapa­
kah ini? Kawan­kawanku tampak masih muda, aku terlempar ke
masa mahasiswa ketika kami masih mencari­cari tempat untuk
berdiskusi sekaligus bermalam dengan aman, jauh dari intaian
intel. Peristiwa penangkapan tiga aktivis Yogyakarta tiga tahun
sebelumnya masih saja terasa panas dan menghantui kami.
“Pintu ini terbuat dari kayu jati,” kata Sunu dengan suara
yakin. Dari kami berlima, hanya Sunu yang paling paham
urusan bangunan. Karena itulah aku mengajaknya bersama
Kinan untuk melihat rumah ini. Lantas saja Daniel dan alex
memutuskan ikut­ikutan. Tentu saja itu bukan keputusan yang
bijak karena Daniel seperti biasa akan menganggap segala di
dunia ini perlu diperdebatkan. udara yang panas bisa jadi

LeiLa S. cHuDori

11

pangkal keributan. nyamuk yang gemar merubung kakinya
sudah pasti menyebabkan kehebohan. Mahasiswa yang tak
pernah membaca puisi Rendra atau anak muda yang tak peduli
dengan pemberangusan buku­buku yang dianggap “kiri”, akan
menghasilkan Daniel yang brutal menyerang si mahasiswa dungu
dengan serangan verbal tak berkesudahan. Mengajak Daniel ke
rumah ini sebetulnya bukan rencanaku. Itulah gunanya Kinan.
Selain dia akan menjadi penentu terakhir, kami semua mengakui
Kinan sering memberikan argumen paling masuk akal dalam
banyak hal. Yang lebih penting lagi, Kinan berfungsi untuk
menyetop kerewelan Daniel.
Beberapa detik setelah Sunu membuka pintu dengan kunci
dari pemilik rumah, terdengar derit engsel yang sudah berkarat.
Di hadapan kami terbentang sebuah ruangan yang sangat luas
dengan lantai yang tampaknya tak pernah disapu berbulan­bulan;
beberapa kursi kayu yang berserakan nampak lapuk busuk karena
terkena bocoran air hujan di beberapa titik. ada dua buah jendela
panjang menghadap ke teras dan dua jendela pada setiap sisi kiri
dinding. Sebagian besar kaca jendela itu sudah pecah. Sebelah
kanan dinding juga terdiri dari satu jendela yang sudah rusak
dan sia­sia. alex yang selalu berbicara dengan kameranya mulai
memotret setiap pojok, setiap jengkal lantai dengan kotoran
setebal dua sentimeter, setiap pintu dan jendela yang menurut
Sunu terbuat dari kayu jati itu. aku merasa alex memutuskan
merekam sudut rumah yang menarik hatinya sebelum Gusti
yang matanya juga seperti lensa itu melampauinya. Persaingan
kedua mahasiswa yang bercita­cita merekam dunia ini sering
merepotkan kami. alex amat hemat dalam merekam, tapi sekali
jadi: hasilnya amat jitu dan tajam. Jika alex terlihat emosional
hingga terekam pada foto­fotonya—sehingga aku cenderung

12

Laut Bercerita

lebih menyukai karyanya—maka Gusti yang pendiam itu me­
ngirim rasa misteri, berjarak dan dingin terhadap subjek yang
direkamnya. Jika alex cukup menghabiskan setengah rol ilm
untuk satu peristiwa, Gusti bisa menggunakan beberapa rol.
Terdengar lenguhan Daniel yang mencoba menebak­nebak
manusia di zaman apa yang terakhir menempati rumah itu.
Mungkin zaman Belanda, katanya bersungut­sungut menjawab
pertanyaannya sendiri. atau mungkin zaman batu, demikian
ia menambahkan. Kinan asyik mengamati tembok kotor yang
sudah tak jelas warnanya, atau krem atau cokelat jorok. Sunu
bergumam, dan hanya aku yang bisa mengerti kata­kata yang
dikeluarkan di antara sepasang bibirnya yang jarang bicara
itu: Kita bisa berpatungan untuk membeli cat. Kinan seolah
tak mendengar ucapan Sunu atau lenguhan Daniel yang mirip
suara kerbau karena lebih sibuk mengusap­usap tembok seolah
permukaan tembok kotor itu adalah hamparan kain sutera.
“Ruang besar ini bisa kita gunakan sebagai tempat diskusi.
Pasang tikar saja,” aku mencoba mengatasi suara gerundelan
Daniel yang kini mencoba menyodok­nyodok sarang laba­laba di
pojok plafon dengan menggunakan sebatang kayu yang semula
tergeletak di pojok ruangan. Sunu kelihatan tak peduli komentar
Daniel. Dia membuka pintu ruangan yang terletak tepat di sisi
kiri belakang. aku membuntuti Sunu dan rasanya kami sama­
sama langsung tahu ruangan besar itu harus kami sulap menjadi
sekretariat, tempat kami kelak melakukan kegiatan administratif
untuk diskusi dan rencana gerakan. Gerakan mahasiswa Winatra
sudah dideklarasikan secara serentak di beberapa kota. Kaki
rasanya gatal jika kami hanya berdiskusi sepanjang abad tanpa
melakukan tindakan apa pun.

LeiLa S. cHuDori

13

Tiba­tiba terdengar suara jeritan Daniel. Sunu berlagak tuli
karena sibuk mengetuk­ngetuk dinding ruang depan. artinya
akulah yang bertugas mencari tahu sumber keributan Daniel.
Begitu kumasuki lorong yang menghubungkan ruang depan
dengan belakang, cuping hidungku diserang aroma pesing yang
memualkan. Suara Daniel semakin nyaring. Ternyata ada tiga
buah kamar mandi kecil dan toilet yang selama ini tampaknya
digunakan orang­orang yang lalu lalang karena mengetahui
rumah ini tak ditempati. Daniel menyumpah­nyumpah dan
mulai menjabarkan teori mengapa Indonesia tak akan pernah
maju (karena masyarakat kita tak menghargai kebersihan dan
masih senang membuang sampah sembarangan, dia menjawab
pertanyaannya sendiri). Kita bisa membersihkan ini, demikian
Kinan mencoba menyetop gerutuan Daniel dengan segera
menyiram kamar kecil yang luar biasa pesing itu dengan selang
air. Keran air ternyata berjalan dengan baik.
aku meninggalkan keduanya yang masih beradu pendapat
dan menjenguk dapur di belakang yang menghadap kebun.
Pemilik rumah ini bahkan meninggalkan sebuah kompor, sebuah
lemari piring dan sebuah meja makan yang mungkin lebih sering
digunakan untuk mengolah bahan makanan.
“aku rasa kita ambil saja, Laut. Enam juta rupiah setahun.
Jauh lebih murah daripada Pelem Kecut,” kata Kinan mengingat
harga sewa di tempat kami sebelumnya.
“Ini tempat busuk. Cari yang lain saja!” kata Daniel dengan
wajah masam. “Lokasi sangat jauh dari mana­mana, banyak yang
harus direnovasi dan sudah jelas kita tak punya dana sebesar itu.
Belum lagi julukan masyarakat setempat….”

14

Laut Bercerita

“apa julukan rumah ini, Dan?” Kinan bertanya menyem­
bunyikan senyumnya.
“Rumah Hantu. Mereka bilang setiap malam Jumat ada
hantu yang tidur­tiduran di sini,” alex menyela sambil terus
memotret dapur atau mungkin lebih tepat untuk menamakan­
nya bekas dapur. Tentu saja kami tak peduli dengan hantu yang
tidur­tiduran pada malam Jumat, atau mungkin hantu yang
memasak mi instan pada malam Senin. Kami juga tak peduli
betapa kotornya dan berantakannya rumah ini, kecuali Daniel
yang super bersih dan sedikit manja itu, karena pembagian tugas
untuk bebersih selalu ketat dan rapi. Kami semua mematuhi
pembagian kerja itu sehingga tak sulit membayangkan rumah
besar atau rumah hantu zaman Belanda ini akan menjelma
sebagai sekretariat sekaligus tempat kami menetap.
Sunu sudah mulai mencatat apa saja yang perlu diperbaiki
dan cukup hanya dicat atau dibersihkan. Jendela diberi kaca dan
gorden blacu yang sangat sangat murah; kursi­kursi tamu dan
beberapa meja kerja diperbaiki dan dipernis. Kamar harus disikat.
Sunu memperhatikan sambungan listrik yang kelihatannya tak
terlalu bermasalah. Kami hanya harus membeli bohlam lampu.
“Hanya kamar mandi dan dinding yang akan makan dana
yang lebih tinggi,” kata Sunu sambil memperhatikan tembok
yang warnanya tak jelas itu. Kinan mengangguk­angguk, “Kamar
mandi, toilet, dan dapur, Sunu. Soal tembok, jangan beli cat dulu.
aku ada ide lain.…”
Sunu menjawil lenganku, seolah aku adalah penerjemah ide
Kinan. aku mengangkat bahu karena sungguh tak tahu apa ide
Kinan untuk membuat tembok jijik itu lebih menarik selain dicat.

LeiLa S. cHuDori

15

Daniel menghampiri Kinan dan Sunu lalu menyodorkan sehelai
kertas dengan wajah datar.
“untuk apa, Dan?”
“Coba gambarkan peta bagaimana seseorang yang berangkat
dari kampus bisa mencapai rumah ini?”
Sebelum Kinan membuka mulutnya, alex segera membalas
dengan sigap lengkap dengan irama dan aksen Flores yang
merdu.
“Jalan Godean terus saja sampai pasar, lalu belok kanan ke
arah utara. Lima kilometer nanti bertemu perempatan, kau akan
menemukan sebatang pohon beringin. Belok kiri, 300 meter dari
sana masuklah ke Desa Pete, jalan terus melalui sekolah taman
kanak­kanak yang berpagar merah, terus saja mengikuti jalan
yang menurun. nanti masuk lagi ke gang yang agak sempit, terus
saja, nah, rumah di sebelah kiri, dengan patokan sebuah pohon
beringin lain yang jauh lebih besar dan sudah tua dan akar yang
menggapai tanah.” Jawaban alex bukan menenangkan Daniel,
tapi malah membuat wajah Manado yang putih itu menjadi
merah. Itu artinya: darahnya naik ke ubun­ubun. Selain begitu
banyak yang harus diperbaiki, Daniel mempersoalkan bagaimana
bisa mencapai rumah hantu itu jika untuk mengucapkan arah
jalan saja sudah makan waktu 15 menit. Bagaimana caranya
kami mendapatkan dana untuk merenovasi dan mengecat serta
memperbaiki kamar mandi yang berantakan itu. Bagaimana
caranya kami bisa menyampaikan informasi kepada kawan­kawan
bahwa kini diskusi dan sekretariat mahasiswa Winatra sudah
pindah ke tengah hutan Desa Pete? Daniel mengucapkan itu
seperti seorang aktor teater yang tengah membacakan monolog
di atas panggung.

16

Laut Bercerita

Kinan menjawab monolog panjang itu dengan tenang. “Soal
perbaikan, serahkan pada Sunu dan aku. Kau tak perlu pusing.
Perkara julukan rumah hantu itu bagus, karena itulah yang
menyebabkan sewa rumah ini jadi murah sekali. Soal jarak dan
keruwetan arah...,” Kinan menatap wajah Daniel yang tampaknya
belum puas berteater, “justru itu kelebihannya. Karena rumah
hantu ini tersembunyi, kita akan aman. Rasanya para lalat itu
akan sukar menemukan desa ini. Kita bebas mendiskusikan buku
siapa saja, apakah karya Laclau atau Ben anderson, atau bahkan
novel Pak Pramoedya akan menghirup udara merdeka di sini.”
Tiba­tiba saja Daniel terdiam. Segala monolog teater yang
dipersiapkannya gugur seketika karena dia baru menyadari betapa
jeniusnya Kinan. Peristiwa penangkapan para aktivis karena
memiliki sejumlah buku terlarang termasuk karya Pramoedya
ananta Toer yang terjadi tiga tahun lalu masih menghantui
kami, terutama mahasiswa yang sangat suka membaca sastra
atau buku­buku pemikiran kiri. Tentu saja lokasi Seyegan di Desa
Pete Margodadi Godean ini adalah sebuah pilihan tepat. Lokasi
rumah hantu ini terlalu gila, jauh dari tengah kota, dari kampus,
atau sebutlah jauh dari peradaban. namun di mata Kinan, ini
sebuah lokasi yang strategis. Kami akan merasa aman melakukan
berbagai kegiatan diskusi mahasiswa dan aktivis hingga persiapan
pendampingan petani di beberapa daerah di Jawa Tengah dan
Jawa Timur.
Rupanya Daniel baru menyadari dengan terang benderang.
untuk dia, segalanya harus diverbalisasi agar paham mengapa
Kinan harus mengambil keputusan taktis itu.
Meski kami berpretensi menganggap semua keputusan diam­
bil bersama­sama, sesungguhnya Kinan sering menjadi pengambil

LeiLa S. cHuDori

17

keputusan. Dan kami membiarkannya karena berbagai alasan.
Keputusan Kinan sering menyelesaikan silang pendapat antara
Sunu dan Daniel, antara alex dan Daniel, atau antara siapa saja
melawan Daniel. Bagi kami, Kinan selalu berpikir realistis dan
taktis. Selain itu, Kinan adalah senior kami. usianya dua tahun
lebih tua daripada kami. Dialah jembatan kami kepada ariin
Bramantyo, senior aktivis Wirasena yang menjadi induk Winatra.
Sunu dan Daniel tentu saja mengenal Bram dari berbagai acara
kegiatan pers mahasiswa beberapa tahun lalu ketika Bram masih
rajin kuliah. Tetapi aku baru mengenal Bram secara dekat melalui
Kinan.

aKu mengenal Kasih Kinanti setahun lalu di kios Mas Yunus,
langganan kami berbuat dosa. Di sanalah kawan­kawan sesama
pers mahasiswa diam­diam menggandakan beberapa bab novel
Anak Semua Bangsa dan berbagai buku terlarang lainnya.
Seingatku, Kinan tengah membuat fotokopi buku­buku karya
Ernesto Laclau dan Ralph Miliband yang akan menjadi bahan
diskusi. Sebetulnya aku pernah bertemu Kinan sekilas di beberapa
acara pers mahasiswa di kampus, tapi aku hanya mengenalnya
sebagai Kasih Kinanti dan ternyata dia juga sudah mengetahui
namaku dari beberapa tulisanku di koran mahasiswa aulagung.
Kinan, panggil aku Kinan saja, katanya dengan suara tegas
ketika aku memanggilnya dengan nama lengkap. aku tersenyum
bergurau mengatakan bahwa itu mengingatkan aku pada tokoh
Georgina dalam seri Lima Sekawan yang lebih suka dipanggil
George. atau tokoh Josephine dalam Little Women yang ingin
dipanggil Jo. Kinan hanya menghela napas. Mungkin karena dia

18

Laut Bercerita

menganggap referensiku terlalu borjuasi atau terlalu klasik atau
sangat tidak relevan untuk masuk dalam pembicaraan kami.
aku heran melihat Kinan melakukan penggandaan pada
mesin fotokopi itu tanpa bantuan, sementara Mas Yunus malah
duduk merokok di pojok kios itu. Mas Yunus hampir seperti
bagian dari lingkaran kelompok mahasiswa yang gemar membuat
fotokopi barang terlarang, seperti buku­buku kiri, buku karya
sastrawan amerika Latin yang sedang digemari anak muda di
Indonesia yang membuat aparat pemerintah gatal­gatal, hingga
buku porno yang biasa digandakan oleh anak­anak SMa yang
terdiri dari murid yang hormonnya baru meledak.
“Senenge pancen ditandangi dhewe,” kata Mas Yunus sam­
bil menunjuk bagaimana Kinan mengukur kertas kosong agar
penggandaan tidak miring dan terukur rapi. aku mengangguk
dan menanti. Dalam hidup memang akan selalu ada sosok yang
sangat ingin mengontrol segalanya, bahkan sampai ukuran kertas
atau ketebalan tinta; dari pemilihan bentuk rumah hingga letak
dapur dan kamar mandi. Sebelum berkenalan lebih jauh, aku
sudah menduga Kinan pasti anak tertua di dalam keluarganya.
Sambil duduk di sebelahnya, melihat sinar mesin fotokopi
itu sesekali memberi nyala pada wajahnya, kami berbincang
seperti kawan lama. Sama seperti aku, Kinan juga lahir dan besar
di Solo. Bapaknya, Bambang Prasojo adalah pegawai pegadaian
yang setiap bulan Juni harus menghadapi para orangtua yang
menggadaikan barang­barangnya karena itulah bulan­bulan
gawat orangtua menghadapi gerogotan tahun ajaran baru sekolah:
seragam, buku, dan alat tulis. “Dari sepeda motor hingga panci
pressure cooker,” kata Kinan sambil membereskan semua foto­
kopinya yang sudah selesai. Sambil membantuku membuat

LeiLa S. cHuDori

19

fotokopi Anak Semua Bangsa—dia memutuskan menggandakan
seluruh buku karya Pram itu sambil bercerita. Menurut Kinan,
dia tak akan pernah melupakan para ibu yang akhirnya harus
merelakan apa pun barang terakhir yang mereka miliki tergadai
karena pada akhirnya tak mampu membayar kembali. Mereka
menetap di sebuah kompleks pegawai pegadaian di Jumapolo,
cukup jauh dari tempat tinggal kami di Laweyan.
“Sejak berusia dini, saya merasa ada problem besar dalam
situasi sosial ekonomi,” katanya dengan nada serius. Dia mencerita­
kan, sesungguhnya ibunya melahirkan empat anak, tetapi adik
bungsunya lahir meninggal dihajar demam berdarah ketika masih
balita. Saat itu, dia berusia lima tahun dan mengenal kematian
pada usia dini adalah sebuah luka yang sulit disembuhkan.
Setelah remaja Kinan menyimpulkan bahwa kematian anak­anak
pasti salah satu problem negara berkembang. Dan itu pula yang
mendorong dia memutuskan memilih Fakultas Politik untuk
melahap semua teori politik ekonomi yang barangkali bisa
menjawab tanda tanya besar dalam dadanya.
Sudahkah tanda tanyamu terjawab, tanyaku. Kinan meng­
geleng. Tetapi dia mengaku hatinya terhibur ketika orangtuanya
akhirnya siap memiliki anak lagi. Layang dan Seta, bayi kembar
sehat yang berbeda 12 tahun dengan Kinan, menjadi pelipur hati
akibat kehilangan adik bungsu.
Fotokopi novel Anak Semua Bangsa selesai. Kami membung­
kusnya dengan koran berlapis­lapis. aku betul­betul ingin tahu
apa yang ingin dia lakukan dengan teks Miliband dan Laclau
yang rumit itu.
“Kami akan mendiskusikan pemikiran mereka. Datanglah.”
Kinan tersenyum. “Kamu di persma kan? akan kukabari kalau

20

Laut Bercerita

ada diskusi. aku juga perlu fotokopi buku Pram yang ini. Kami
baru punya Bumi Manusia.”
Karena peristiwa penangkapan para aktivis masih saja
menggelayuti Yogyakarta, membawa­bawa fotokopi buku karya
Pramoedya ananta Toer sama saja dengan menenteng bom: kami
akan dianggap berbahaya dan pengkhianat bangsa. Kinan dan
aku bersepakat membawa pulang fotokopi masing­masing ke
tempat kos dan berjanji bertemu lagi besok siang sesudah kuliah
pagi. Dia ingin membicarakan sesuatu denganku.
Kinan menepati janjinya. Keesokan harinya, seusai kuliah
Sejarah Sastra Inggris yang hampir selalu minim mahasiswa, kami
bertemu lagi di warung Bu Retno di pinggir selokan Mataram.
aku senang sekali ketika Kinan mengusulkan warung ini karena
situasi kantongku sedang menipis, dan Bu Retno selalu bersedia
memotong satu dada ayam goreng nan lezat itu menjadi dua agar
kami bisa membayar separuhnya saja. aku juga senang karena Bu
Retno selalu tampil rapi dengan kain dan kebaya bunga­bunga.
Saat dia mengambilkan lauk, aku selalu bisa mencium wangi
bedak mawar yang segar dan manis. Pada saat membayar, aku
selalu berlama­lama agar ada alasan menghirup bau bedak itu.
Kinan ternyata pemakan segala. Tanpa tedeng aling­aling
dia memesan nasi setinggi gunung, orak­arik tempe, urap, dan
dua macam sambal (hijau dan merah), dan sebagai penutup dia
minta nasinya disiram kuah gulai ayam yang panas merekah.
Begitu takjub aku melihat pesanannya karena belum pernah
melihat perempuan yang menikmati nasi warung tegal sebagai­
mana asmara Jati menggauli makanan di hadapannya. Tanpa
sungkan. Tanpa malu.
“Kok diam. ayo pesan!” katanya sambil mengunyah dengan
asyik.

LeiLa S. cHuDori

21

aku memesan nasi dan lauk yang sama (kuah dan sambal
dan terkadang urap gratisan karena Bu Retno yang baik hati),
lantas duduk di sampingnya.
“Kangen tengkleng ya,” katanya melihat aku meminta kuah
gulai yang begitu banyak hingga menyiram seluruh nasi. aku
tersenyum. “Tengkleng buatan ibuku tak ada tandingannya, sejak
kecil asmara dan aku ikut membantu memasak,” kataku.
“nama adikmu asmara? Bagus sekali.”
aku mengangguk.
Kinan tampaknya paham aku tak terlalu agresif dalam men­
ceritakan diri sendiri. Sembari terus makan, masya allah dia
minta tambah nasi, Kinan terus­menerus menanyakan tentang
asmara Jati yang kukatakan adalah adik yang tingkah lakunya
lebih seperti kakak karena dia lebih bawel dan lebih suka menga­
tur (tak kusampaikan bahwa tingkah Kinan mengingatkan aku
pada asmara); tentang Ibu yang pernah mengatakan karakter
kami seperti langit dan bumi meski berasal dari rahim yang sama;
asmara jelas anak kota dan anak sekolahan yang tertib sementara
aku anak sembarangan yang entah kenapa selalu memperoleh
angka tertinggi di kelas sejak sekolah dasar. Sejak kecil asmara
sering menyatakan ingin menjadi dokter atau pengacara, profesi
yang keren sekaligus membantu orang, sedangkan aku tak tahu
ingin menjadi apa.
Dengan nyaman aku menjawab pertanyaan tentang kerja
bapakku sebagai wartawan Harian Solo. “Beliau yang mengajarkan
kami berdua sejak kecil untuk mencintai bacaan,” kataku.
Kami melahap semuanya, dari koran hingga buku­buku, dari
komik wayang hingga buku­buku klasik karya semua penulis

22

Laut Bercerita

Eropa dan amerika Latin yang sudah diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia. Kuceritakan juga tentang keputusan keluarga
kami untuk pindah ke Jakarta karena pekerjaan Bapak yang
menyebabkan lebih banyak akses pada buku­buku bacaan yang
tak tersedia di Solo atau Yogya, tapi ongkos pindah kota itu adalah
aku kehilangan kawan­kawan. aku juga mengakui, kesenanganku
bergumul dengan kata­kata, menulis cerita, mengulik bahasa
asing dan akrab dengan karya sastra dimulai karena Bapak. untuk
kali pertama aku menyaksikan pembacaan puisi Rendra di Taman
Ismail Marzuki dan juga pertunjukan drama Teater Koma.
Mata Kinan terlihat bersinar­sinar mendengar ceritaku dan
mengomentari bahwa ternyata aku bisa juga berbicara agak
panjang. Dia bertanya tentang ibuku, apakah beliau bekerja
kantoran atau mengurus rumah tangga. aku menjawab bahwa
ibuku sama seperti banyak ibu di Solo: melakukan keduanya.
Mengurus kami sekaligus bekerja menerima pesanan katering.
“Ibu mengaku, dia menerima pekerjaan katering hanya karena
kami serumah memang gemar makan enak. Tapi setelah dewasa
aku paham, Ibu ingin memiliki tabungan untuk ongkos sekolah
kami. Gaji Bapak sebagai wartawan terlalu minim,” aku mencoba
menutup semua tanya jawab ini karena saat itu menyadari aku
terlalu banyak bercerita tentang diri sendiri pada orang yang
baru kukenal.
Kinan terlihat memahami keenggananku. Dengan luwes dia
bercerita bagaimana dia gemar makan di warung itu bukan hanya
karena murah, tetapi juga karena menurut dia sambal bawang
dan sambal hijaunya adalah “sambal terenak di seluruh dunia”.
Sambal buatan warung ini memang enak sekali, tetapi sambal
buatan ibuku tetap yang terlezat. Tak kusadari aku mulai lagi
bercerita bagaimana ibu suka memetik beberapa cabai rawit dari

LeiLa S. cHuDori

23

kebun dan mencampurkannya dengan cabai besar, bawang putih,
bawang merah, sedikit terasi Cirebon yang dibakar, dan tiga tetes
minyak jelantah. Sambal Bu Retno juga asyik tapi belum segila
sambal buatan Ibu. Kinan tampak menelan ludahnya ketika
kuceritakan proses pembuatan sambal Ibu. Kelihatannya kami
akan berkawan baik. Tanpa kusadari pula, kuceritakan bahwa
asmara dan aku jadi pandai membuat sambal bawang dan
beberapa masakan lainnya hanya karena kami senang makan
bersama setiap hari Minggu. Tentu saja kebiasaan ini sudah mulai
jarang dilakukan sejak aku kuliah di Yogya.
Kinan lantas bertanya satu pertanyaan yang menurutku
paling penting dari seluruh pertemuan pertama ini. Sebuah
pertanyaan yang kelak kusadari menjadi titik perputaran hidupku
yaitu: mengapa aku memilih kuliah di Yogya dan bukan di unS.
Semula aku mencoba bergurau dengan mengatakan yang jelas
aku memilih Yogya bukan karena kulinernya, karena makanan
Solo atau Cirebon atau Jawa Barat jauh lebih cocok dengan
lidahku yang tak terlalu suka masakan yang manis. namun saat
itu Kinan bertanya dengan mata yang berkilat menghujamku.
aku memutuskan menjawab dengan jujur bahwa aku ingin
bertemu dan bertukar pikiran dengan anak muda Indonesia yang
memilih berkumpul di uGM dan mengutarakan ide­ide besar.
Kinan tertawa keras. Sebagian pengunjung warung mem­
perhatikan kami. “Kamu harus bisa membedakan mereka yang
bermulut besar, omong besar, dengan mereka yang memang serius
ingin memperbaiki negeri ini,” katanya sambil menyelesaikan
suapan terakhir dan mengeluh bahwa dia masih lapar. Sungguh
menakjubkan, bagaimana tubuh sekecil ini bisa menampung
makanan sebanyak itu?

24

Laut Bercerita

aku masih menikmati nasi urap dan sambal Bu Retno ketika
Kinan melempar pertanyaan serius berikutnya: apa yang ingin
kulakukan di masa yang akan datang. aku tertegun karena saat
itu otakku hanya penuh dengan tugas esai bentuk realisme dalam
karya­karya Inggris abad ke­19, dan ada beberapa tugas linguistik
yang sangat membosankan. Melihat aku terdiam, Kinan menyer­
buku dengan serangkaian pertanyaan­pertanyaan sulit: apa yang
kubayangkan tentang Indonesia 10 tahun lagi; apakah kita akan
terus­menerus membiarkan rezim Soeharto berkuasa selama­
lamanya atau apakah aku ingin berbuat sesuatu. aku menganga
mendengar pertanyaan sebesar itu.
“aku mahasiswa semester tiga Fakultas Sastra Inggris...,”
kataku agak gugup.
“Yang diam­diam membaca buku Pramoedya bukan hanya
karena estetika sastra, tetapi karena ada suara lain yang mendo­
rongmu!” Kinan memotong kalimatku.
“Mungkin karena aku ingin belajar menulis seperti beliau,
seperti para penulis lainnya yang begitu fasih berekspresi,”
jawabku perlahan.
“Laut, aku yakin suatu hari kau akan menjadi penulis besar.”
Kinan menatapku. aku merasakan bagaimana jantungku seolah
menggelepar. “Beberapa tulisanmu kubaca dan untuk mahasiswa
sepertimu, kamu menggali dengan dalam. Bahasamu tidak klise.
aku sangat yakin kamu bukan hanya ingin menulis tentang
awan gemawan atau bulan sabit yang ditemani ranting di sebuah
malam,” kata Kinan.
Dia menatapku. Sebagai seorang mahasiswa hijau, apa yang
bisa kita lakukan untuk mengguncang sebuah rezim yang begitu
kokoh berdiri selama puluhan tahun, dengan fondasi militer yang

LeiLa S. cHuDori

25

sangat kuat dan ditopang dukungan kelas menengah dan kelas
atas yang nyaman dengan berbagai lisensi dan keistimewaan yang
dikucurkan oleh Orde Baru? Baru pertama kali aku bertanya
dengan kalimat sepanjang itu. Kinan tersenyum dan menyuruh
aku segera menyelesaikan makan siangku.
“Kau tahu apa yang terjadi saat aku masih mahasiswa hijau?”
aku menggeleng, dan aku yakin Kinan tak membutuhkan
jawaban.
“Bram dan aku pernah ditahan bersama beberapa kawan
lainnya ketika menemani warga Kedung Ombo yang bertahan
di lokasi….”
aku terdiam, kini benar­benar berhenti mengunyah.
Kinan bercerita bagaimana warga Kedung Ombo yang dijan­
jikan ganti rugi tiga ribu rupiah per meter persegi dan ternyata
mereka akhirnya hanya diberi 250 rupiah per meter persegi.
Sebagian warga yang sudah putus asa menerima ganti rugi,
tetapi sekitar 600 keluarga bertahan dan mengalami intimidasi.
“Kami mendampingi mereka yang bertahan, ikut membantu
membangun kelas darurat untuk anak­anak dan rakit untuk
transportasi.”
“Lalu, apa alasan mereka menangkap kalian?”
“alasan menahan dan menyiksa tak pernah penting di mata
mereka, Laut.”
Warung Bu Retno sudah agak sepi, hanya kami berdua dan
seorang mahasiswa yang baru saja masuk dan duduk di pojok.
“Hanya beberapa pekan setelah kegiatan itu kami ditahan.
Sekitar tujuh orang, satu per satu diinterogasi dan ditempeleng,
disiram air, ditelanjangi.”

26

Laut Bercerita

aku tercekat. “Kau juga?”
“Mira dan aku digarap aparat perempuan. Kami tidak sam­
pai ditelanjangi, tapi mereka berteriak­teriak tepat di telinga
kami. Menanyakan siapa pimpinan kami, siapa yang menghasut
penduduk untuk melawan. Demikian bahasa aparat,” kata Kinan.
aku tak bisa berkata apa­apa sampai teringat sesuatu. “aku
teringat sebuah esai­foto majalah Tera....”
Kinan diam menatap mataku, “Foto pertama dalam serial
itu adalah sebuah tangan yang menunjuk ke suatu arah. Foto
kedua, penduduk Kedung Ombo. Foto­foto itu hingga kini
menggangguku.”’
Kinan tersenyum. “Ya aku ingat bahkan wartawan yang ke
sana pun sering dibuntuti intel.”
Tiba­tiba saja mata Kinan menangkap seseorang di pojok
warung. “Tama? ayo gabung.…”
Mahasiswa tadi, yang di pojok dan tengah asyik dengan nasi
campur Bu Retno, mengangkat wajahnya yang penuh jejak kumis
dan jenggot belum dicukur. Dia mengucapkan “Hai” dengan
mulut penuh dan mengangkat tangannya.
“Itu naratama, seangkatanku di FISIP. Jarang kuliah, lebih
banyak wara­wiri di Gang Rode bersama yang lain,” Kinan
menjelaskan. aku mengangguk kepada Tama dari jauh dan dia
membalasnya dengan senyum.
Kinan menepuk bahuku.
“ayo, selesaikan makan siangmu, aku ingin memperkenal­
kanmu pada seseorang.”

LeiLa S. cHuDori

27

BERTuBuH kurus dan tinggi, berkulit bersih, berkacamata
dengan bingkai hitam dan rambut ikal, ariin Bramantyo
sama sekali tak terlihat sebagai seorang pemimpin atau pendiri
organisasi anak­anak muda. Dia lebih mirip sosok stereotip
mahasiswa kutubuku yang lebih nyaman melekat di perpustakaan
kampus atau yang berjam­jam menganalisa buku Kapital yang
luar biasa sulit itu daripada sebagai orang yang mendampingi
petani untuk menuntut haknya.
“Mbah Mien…,” katanya menjawab pertanyaanku tentang
jejak titik pencerahannya. Sore itu kami mengunjungi tempat kos
Bram di Kaliurang yang begitu sempit, hanya terdiri atas sebuah
kamar tidur dengan dua buah jendela kecil. Sebuah poster Che
Guevara, siluet dengan topi yang dikenakannya berlatar belakang
warna merah, yang selalu saja membakar gelora mahasiswa dan
anak­anak muda di Indonesia. Sebuah rak dari beberapa papan
yang ditopang dengan batu bata yang dipenuhi buku­buku.
Puluhan sisa poster dan spanduk aksi melawan penggusuran
Kedung Ombo.
Bram menceritakan masa kecilnya di Cilacap. Mbah Mien,
salah satu ibu di desanya yang menetap di belakang rumah kakek
Bram, ditemukan tewas gantung diri karena terlibat utang lintah
darat. “untuk anak berusia lima tahun, adegan seorang ibu tua
yang tergantung dengan tali terus melukai benak dan hati,” kata
Bram. Dia menceritakan bahwa Mbah Mien adalah ibu yang
sesekali menggendongnya jika orangtua atau kakeknya sedang
pergi. Jenazah yang tergantung itu diturunkan dan digotong
beramai­ramai ke atas dipan di antara suara isak tangis. Perlahan
Bram hanya tahu bahwa Mbah Mien, tetangganya yang begitu
menyayangi dan mengasuhnya itu, memiliki utang dan begitu
saja tewas. aku meradang, kata Bram dengan murung.

28

Laut Bercerita

“aku marah pada semua orang termasuk pada kakekku….
Belakangan aku paham konsep peminjaman pada lintah darat;
bagaimana seseorang bisa terjerat karena bunga yang besar, dan
barang­barang berharga milik mereka, dari motor hingga rumah,
bisa hilang diserobot para lintah darah. Diam­diam Mbah Mien
akhirnya memutuskan hidupnya dengan seutas tali.”
Ini luka besar bagi Bram kecil yang berusia lima tahun.
Bram mengaku terus­menerus dihantui pertanyaan mengapa
Mbah Mien memilih untuk mati daripada menghadapi utang
yang bertumpuk. “Semakin aku tumbuh dan semakin melahap
banyak bacaan perlahan aku menyimpulkan bahwa ada dua hal
yang selalu menghantui orang miskin di Indonesia: kemiskinan
dan kematian.”
Sejak saat itu Bram merasa harus lebih dekat bersama
kakeknya di Cilacap daripada mengikuti orangtuanya yang pin­
dah ke Bogor. “aku merasa harus banyak belajar apa yang di­
inginkan petani di desa,” katanya sambil terus menceritakan
bagaimana sulitnya meyakinkan orangtuanya agar mengizinkan
dia menempuh pendidikan menengah di Cilacap. Selain mereka
tak ingin berpisah dengan Bram, ayahnya curiga Bram hanya
ingin bebas dan membandel; ingin keluar dari peta hidup yang
sudah dirancang orangtuanya. Dia ingin Bram dan adiknya
hidup tertata rapi dan “steril dari kuman”, demikian Bram mem­
bahasakan pemikiran orangtuanya di masa lalu. Tetapi Bram yang
memang ahli merangkai kata dan pandai membuat hati mekar
itu berhasil meruntuhkan keraguan ayahnya.
Persyaratannya: Bram harus tetap rajin mengaji. Dan dia me­
mang menunaikan janjinya: mengaji pada sore hari meski sesekali
membolos karena ikut kesebelasan sepak bola sekolahnya. Ketika

LeiLa S. cHuDori

29

Bram meminta izin orangtuanya untuk meneruskan SMa di
Yogyakarta, ayahnya mulai curiga, apalagi melihat kamar Bram di
desa yang hanya terdiri dari kasur dan ratusan buku­buku yang
sudah melampaui bacaan anak­anak SMP: Di Bawah Bendera
Revolusi, Pondok Paman Tom, Oliver, dan Kisah Dua Kota yang
dinamakan Bram sebagai “periode keranjingan revolusi”. ayahnya
tahu, Yogyakarta seperti magnet bagi bocah lanangnya yang
terlihat semakin bengal.
“Sekali lagi, ayah minta aku berjanji tetap rajin mengaji,
dan itu kupatuhi. Tentu saja saya juga menyelenggarakan diskusi
bersama teman­teman SMa dan di luar SMa,” kata Bram
menyeringai. Kekhawatiran ayah Bram memang beralasan.
Setelah peristiwa penangkapan aktivis di Yogya karena dituduh
mengadakan diskusi karya Pramoedya ananta Toer, Bram dan
kawan­kawannya dijemput dan diinterogasi polisi. “untung aku
sudah siap sebelumnya,” kata Bram. Dia menyimpan buku­buku
pemikiran Karl Marx, Tan Malaka, dan Pramoedya ananta Toer
di sebuah tempat persembunyian yang sulit di balik lemari dapur,
sedangkan buku­buku yang lebih umum seperti Pengantar Politik
atau Ekonomi buku klasik Samuelson sengaja diletakkan di atas
rak bersama beberapa novel karya sastrawan Eropa yang sudah
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Belakangan Bram tahu ada salah satu kawannya, anggota
OSIS bernama Lusia antarini, mengadukan kegiatan diskusi Bram
dan kawan­kawannya kepada ayahnya yang berhubungan dekat
dengan kalangan intel. Bram dan kawan­kawannya diinterogasi
berjam­jam di sebuah kantor (yang belakangan dia ketahui adalah
sebuah kantor badan koordinasi intelijen). “Mereka menanyakan
buku­buku yang aku baca dan aku menjawab bahwa sebagian
besar buku itu milik perpustakaan,” kata Bram tersenyum.

30

Laut Bercerita

Mereka mendesak­desak Bram apakah dia mengenal para aktivis
yang baru saja ditangkap beberapa bulan silam karena memiliki
dan mendiskusikan buku karya Pramoedya. Bram mengaku tak
kenal. akhirnya setelah beberapa jam, mereka dilepaskan dan
dinasihati agar setelah dewasa, “Mbok energi yang kelebihan
itu disalurkan pada organisasi yang genah, seperti sayap Golkar
gitu lo, Dik.”
aku tertawa terkekeh­kekeh mendengar cerita itu.
Bram juga ikut terpingkal. “aku hanya mengangguk­angguk
mendengar saran itu.”
“apakah kau sakit hati pada anak OSIS itu, si Lusia, yang
mengkhianati kalian?” tanyaku hati­hati.
“Pengkhianat ada di mana­mana, bahkan di depan hidung
kita, Laut. Kita tak pernah tahu dorongan setiap orang untuk
berkhianat: bisa saja duit, kekuasaan, dendam, atau sekadar rasa
takut dan tekanan penguasa,” kata Bram mengangkat bahu. “Kita
harus belajar kecewa bahwa orang yang kita percaya ternyata
memegang pisau dan menusuk punggung kita. Kita tak bisa
berharap semua orang akan selalu loyal pada perjuangan dan
persahabatan.”
Dia menghampiri rak bawah bukunya dan mengambil sebuah
buku tebal Mahabharata yang diceritakan kembali oleh P. Lal
dalam bentuk novel.
“aku mengenal begitu banyak pengkhianat dari kisah ini. Dan
karena itu aku tak perlu terkejut lagi,” kata Bram memberikannya
padaku.
aku membukanya perlahan dan lukisan komik R.a. Kosasih
berkelebat begitu saja. Tiba­tiba saja aku teringat asmara yang
pasti masih menyimpan serangkaian komik wayang Mahabharata

LeiLa S. cHuDori

31

dan Bharatayudha yang memperkenalkan aku pada kisah panjang
keluarga besar Barata tentang cinta dan pertarungan merebut
takhta serta kehormatan; juga pada ilsafat kehidupan, kematian,
peperangan, kehancuran, dan kelahiran kembali.
“Bagi Pandawa, tokoh aswatama adalah seorang pengkhia­
nat keji yang membunuh anak dan saudara­saudaranya dalam
keadaan tidur di sebuah malam yang pekat. Tapi bagi aswatama,
tindakannya adalah sebuah pembelaan atas apa yang dia anggap
sebagai pembalasan terhadap taktik Pandawa dalam peperangan
yang berhasil membunuh ayahnya, Dorna,” kata Bram.
“Jadi…pengkhianat adalah sebuah kata yang relatif?” tanya­
ku. “Bisa repot kalau kita selalu menggunakan relativitas sebagai
justiikasi.”
“Seperti juga kata pahlawan,” kata Bram. “Banyak sekali
orang­orang yang diangkat menjadi pahlawan di masa Orde Baru
ini, yang mungkin suatu hari bisa saja dipertanyakan apa betul
mereka memang berjasa dan berkontribusi. Tetapi kau benar,
dalam perjuangan deinisi antara pahlawan dan pengkhianat
harus jelas. Suatu hari pahlawan atau bandit tak boleh hanya
ditentukan karena kekuasaan rezim.”
aku terdiam.
“aku hanya ingin kau paham, orang yang suatu hari ber­
khianat pada kita biasanya adalah orang yang tak terduga, yang
kau kira adalah orang yang mustahil melukai punggungmu,”
kata Bram lagi.
Barulah aku menyadari bahwa Bram sebetulnya bukan hanya
kutubuku seperti yang dikesankan penampilannya yang santun,
berkacamata, berambut ikal yang tersisir rapi, dan kemeja yang
dimasukkan ke dalam. Penampilannya nyaris seperti anak priayi.

32

Laut Bercerita

Tetapi ternyata dia seorang yang penuh strategi dan penuh
ledakan. Dia tahu kapan harus menyimpan tenaga dan kapan
bersiasat dan bergerak.
Begitu asyik mendengarkan berbagai pemikiran dan nasihat
Bram, aku jadi tergagap ketika dia bertanya apa yang menyebab­
kan aku memutuskan belajar di Yogyakarta. aku merasa belum
siap untuk membuka diri atau memuntahkan hal­hal yang emo­
sional kepada seseorang yang kharismatik ini.
“Dia ingin bertemu dan belajar dari orang­orang yang berdis­
kusi dengan pemikiran besar,” Kinan akhirnya membantu men­
jawab. “Dia mengaku tak tertarik mendatar universitas di Jakarta
meski orangtuanya sudah pindah ke sana,” Kinan menyambung.
Bram memandangku, seperti menahan serangkaian kata­kata
yang siap muntah dari mulutnya.
“Kenapa tak tertarik kuliah di uI?”
aku tak tahu mengapa aku tak tertarik. aku tak menjawab,
tetapi aku ingat, aku malah bercerita tentang asmara yang pasti
akan memilih menempuh pendidikan di Depok.
“apa yang kita peroleh di ruang kuliah dan kampus tak akan
cukup,” kata Bram seperti mencoba menahan diri. “Di kampus
kita hanya belajar disiplin berpikir, tetapi pengalaman yang
memberi daya dalam hidup adalah di lapangan,” katanya.
Sebelum kami berpisah, aku merasa harus mengucapkan
sesuatu yang belum pernah aku utarakan kepada siapa pun selain
keluargaku.
“namanya Ibu ami. Dia guru bahasa Indonesia kelas lima
SD di Solo, salah satu SD yang cukup besar,” kataku dengan lirih
saat kami sudah bergerak ke pintu kos.

LeiLa S. cHuDori

33

Bram menatapku. Kali ini dia kelihatan sabar.
“Dialah salah satu orang yang membuat aku semakin men­
cintai sastra, selain Ibu dan Bapak. Dialah yang memperkenalkan
kami pada puisi­puisi amir Hamzah, Chairil anwar, Rendra
dengan membacakanya di depan kelas; dia juga mendiskusikan
beberapa karya Balai Pustaka atau sastra dunia. Beliau mem­
bacakan lengkap dengan suara tokoh­tokohnya. Kami semua
seperti tersihir setiap kali dia membacakan kisah kemiskinan si
yatim piatu Oliver Twist di masa Revolusi Industri di London
atau kadang­kadang dia akan memilih bercerita bab pertama
Genderang Perang dari Wamena karya Djoko Lelono. Meski kami
masih di sekolah dasar, Ibu ami tahu betul cara membangun
gelora kami terhadap karya­karya sastra yang dibacakannya.”
Kinan dan Bram menatapku, menanti kalimat berikutnya
yang sudah pasti bernada murung.
“Suatu hari…Ibu ami menghilang begitu saja. Semula kami
mengira beliau sakit. Tapi dia tak pernah datang. Tiba­tiba begitu
saja kepala sekolah mengumumkan penggantinya Bapak Hardi
yang tinggi, berkumis, dan tak pernah tersenyum. Kami tak
mau Pak Hardi. Kami ingin Ibu ami kembali. Kami tidak mau
belajar awalan dan akhiran dan imbuhan belaka. Kami ingin
mendengarkan cerita selanjutnya dari buku­buku Djoko Lelono
dan Charles Dickens. Berbondong­bondong kami mendatangi
kepala sekolah.”
“Jadi sejak kecil kamu sudah mempunyai jiwa aktivis,” Kinan
menyela sambil tersenyum.
“ah itu karena letupan ramai­ramai saja. Kami merasa sok
senior. Kepala Sekolah hanya mengatakan beliau pindah ke luar

34

Laut Bercerita

kota. Kami tak percaya karena tak mungkin Ibu ami yang baik
hati itu, yang selalu membacakan cuplikan cerita sastra dunia
di depan kelas itu, pergi begitu saja tanpa pamit. Pasti ada
sesuatu yang menyebabkan dia mendadak saja dicerabut dari
kami. Malam­malam aku mendengar bisik­bisik Bapak dan Ibu.
asmara juga mengatakan ayah dari temannya ada yang begitu
saja dipecat dari tempatnya bekerja, lalu dia menganggur.”
aku mencoba menahan diri untuk tidak emosional dan per­
lahan menceritakan bahwa belakangan aku mendengar peraturan
Bersih Diri dan Bersih Lingkungan yang sudah diperkenalkan
lebih dahulu di Jakarta dan kini diterapkan di seluruh Indonesia.
Siapa saja yang orangtua atau keluarganya pernah menjadi
tahanan politik yang berkaitan dengan Peristiwa 1965 tak di­
perkenankan bekerja yang berhubungan dengan publik. Ibu ami
jelas seorang guru, “dan mereka khawatir sekali kami akan dijejali
pemikiran komunisme rupanya,” kataku.
Sejak itu aku justru jadi penasaran, apa arti 1965, mengapa
tahun itu menjadi sebuah titik yang penting betul bagi pemerintah
saat itu. aku bertanya pada Bapak yang saat itu bekerja di Harian
Solo. Karena saat itu aku masih duduk di kelas lima sekolah dasar,
Bapak mencoba memberi semacam perspektif yang netral, tapi
tidak manipulatif seperti yang tertera pada sejarah resmi yang
kita pelajari. “Setelah aku duduk di SMP, aku mendengar kabar
dari beberapa kawan bahwa Ibu ami pindah ke kota lain, karena
ayahnya dulu adalah PKI yang dieksekusi pada tahun 1965. ada
yang menceritakan ayahnya dilempar ke Bengawan Solo bersama
ratusan mayat lainnya yang juga dibunuh. Itulah kali pertama
aku mendengar tentang pembunuhan massal di Jawa Tengah,
Jawa Timur, dan Bali. Semakin banyak aku mendengar berbagai

LeiLa S. cHuDori

35

cerita yang sama sekali tak pernah tertera di buku sejarah,
apalagi di media, semakin aku menyadari betapa buruknya situasi
kehidupan di negeri ini.”
aku berhenti sejenak. Terdengar suara jangkrik dari luar
jendela kecil kamar kos Bram yang terbuka. aku sudah lupa
dengan waktu.
“Sejak peristiwa menghilangnya Ibu ami, aku mengatakan
pada Bapak bahwa aku tak bisa diam saja melihat keadaan seperti
ini. Jawaban Bapak, itulah sebabnya kita dilahirkan sebagai orang
Indonesia. Kalimat Bapak melekat dalam diriku hingga kini. Itu
kuartikan bahwa kita harus selalu mencoba berbuat sesuatu,
menyalakan sesuatu, sekecil apa pun dalam kegelapan di negeri
ini.”
Bram mengangguk paham, “Kau memilih tempat yang tepat
di sini, Laut. Jakarta terlalu tertib dan tegang.”
Meski ini semua terjadi setahun lalu, aku merasa baru ke­
marin Bram menepuk bahuku dan menyatakan dia sangat ingin
bertemu lagi denganku walau tak harus di kampus. Setelah dis­
kusi panjang malam itu, aku malah lebih sering bertemu dengan
Bram, Kinan, Sunu, alex, Daniel, Tama, Julius, Widi, dan Dana
di Gang Rode, tempat Bram dan beberapa kakak kelas lainnya
berdiskusi dan merancang strategi unjuk rasa.

SuLuR pohon beringin yang melindungi Rumah Seyegan itu
tetap tak menghalangi keramaian markas kami. Motor butut
milik Sunu yang kupinjam siang itu kuparkir di samping, meng­

36

Laut Bercerita

hindari keriuhan beberapa orang yang keluar masuk melalui
pintu depan. Kulihat Sunu, narendra, dan Dana yang dibantu
beberapa mahasiswa beberes kamar­kamar depan, menyikat
lantai, membersihkan meja; sementara Kinan dirubung beberapa
anak muda. Menilik dari rambut mereka yang tak kenal pisau
cukur, aku menduga mereka adalah seniman Taraka, kumpulan
perupa Yogyakarta yang selama ini berkarya dengan teknik cukil
kayu dan diam­diam hasilnya sudah menghiasi beberapa kulit
muka buku­buku yang diedarkan di bawah tanah. Kinan segera
memperkenalkan tiga seniman itu kepadaku dan mengalamatkan
aku sebagai “aktivis Winatra yang berbakat menulis”. Sedangkan
para seniman Taraka yang diperkenalkan kepadaku adalah
abiyasa, Hamdan Murad, dan Coki Tambunan.
Rupanya tembok busuk itu akan dilukis mural oleh para
seniman Taraka. abiyasa, Hamdan Murad, dan Coki Tambunan
memandang dan mengelus­elus tembok yang busuk itu seolah itu
adalah sehelai kain sutera yang panjang melambai. aku semakin
kagum pada Kinan. Sudah jelas kami tak punya dana kecuali
menyediakan bahan cat saja. Tetapi ketiga seniman itu dengan
senang hati menggunakan tembok itu sebagai kanvas mereka.
aku sudah pernah mengenal beberapa karya seniman Taraka
yang lebih senior daripada ketiga seniman ini. aku senang sekali
mendengarkan ide mereka untuk membuat mural para tokoh seni
atau politik dan perjalanan hidup mereka. “Jadi tembok sebelah
kiri ini adalah jatah abiyasa,” kata Coki si gondrong menjelaskan.
“aku akan mengisi tembok yang berjendela dengan melukis
beberapa tokoh yang memberi inspirasi, sedangkan satu tembok
besar di ruang diskusi ini adalah jatah anjani, dia si pendongeng
ulung dan akan memperlakukan tembok ini seperi panel komik.”

LeiLa S. cHuDori

37

“anjani…?”
Coki menunjuk ke belakangku. Ketika aku membalikkan
tubuh, seorang perempuan bertubuh kecil dan liat, dengan ram­
but diikat menjadi satu dan poni yang menutup dahinya tengah
membawa beberapa kaleng cat dan kuas. aku buru­buru meng­
hampiri dan berniat membantu membawakan kaleng cat dari
tangannya. Sebuah upaya yang sia­sia; dia mengibaskan lengan­
nya menandakan bisa mengurus dirinya sendiri. Setelah kaleng­
kaleng itu diletakkan, dia menyodorkan tangannya padaku.
“Hai…aku anjani.” Dia tersenyum, giginya bagus sekali,
putih bersih. Lalu muncul lesung pipit itu. Tanganku menggeng­
gam tangannya dengan erat dan seketika terpaku. Dari mulutku
terdengar geremengan bodoh. aku ingin menyebut namaku, tapi
macet di kerongkongan.
“Laut. namanya Biru Laut.” Sunu membantu menerjemah­
kan geremenganku. Matanya melirik padaku lalu pada anjani,
seperti sepasang mata yang tengah menatap bola ping pong yang
mondar­mandir antar­dua bat tenis meja. aku masih menatap
lesung pipitnya dan bertanya­tanya, bagaimana cara seseorang
memperoleh lekukan seperti itu di pipinya?
“Laut, kembalikan tangan anjani ke pemiliknya.” Dengan
sopan Julius mencoba membebaskan tangan anjani dari
genggamanku.
aku menyadari kemudian, ternyata kami dikerubung anak­
anak Taraka dan monyet­monyet seperti Sunu, Daniel, dan
naratama. Sementara Gusti sibuk memotret dengan kilatan lam­
pu yang mengganggu wajahku, alex hanya sesekali memotret
anjani dari beberapa sudut. Buru­buru aku melepas tangan

38

Laut Bercerita

anjani dan mengucapkan maaf. Kinan segera mengatasi situasi
rawan ini dengan memperkenalkan para seniman Taraka kepada
kawan­kawan lain: narendra, Julius, arga, Hakim, Harun, Widi,
dan entah siapa lagi. Semua merubung, bersalaman, ngobrol ke
sana­kemari, bertanya tentang cat apa yang digunakan, objek
apa yang akan dilukis, dan pada akhirnya semua pertanyaan
sebetulnya ditujukan pada satu orang: Ratih anjani.
aku mundur perlahan menjauhi mereka dan melipir ke
dapur, tempat yang kelak menjadi daerah suaka. Sayup­sayup
aku bisa mendengar suara naratama bertanya apa yang akan
dilukis pada tembok bagiannya dan terdengar pula jawaban
anjani menjelaskan bahwa tembok utama diberi panel komik
tentang kehidupan Tan Malaka. aku sangat tergoda untuk
kembali ke sana dan berdiskusi tentang kehidupan sang Rusa
Merah, tetapi aku sangat tahu diri. aku bukan naratama yang
fasih atau Gusti yang sadar akan senyumnya yang magnetik bagi
para perempuan. aku bakal menjadi patung begitu berhadapan
dengannya. Dan aku tahu Sunu, alex, dan Daniel akan segera
berada di belakangku mendukung dan mendorong­dorongku
untuk berani mendekati anjani.
akhirnya aku memutuskan melabur dinding dapur dengan
cat biru, sesuai tugasku yang sudah ditentukan Kinan siang
itu sambil sesekali terdengar suara­suara naratama yang disela
oleh ketiga kawanku yang kelihatannya ingin betul anjani tidak
terjerat si pandai bicara itu. Meski mereka terdengar saling mem­
bantah—karena merasa lebih mengetahui apa yang terbaik untuk
“Laut yang pendiam”—sesungguhnya mereka adalah kawan­
kawanku yang paling kupercaya.

LeiLa S. cHuDori

39

Sunu mempunyai julukan si Bos Bijak. Mas Gala yang puisi­
puisinya menunjukkan dia kalibernya jauh di atas anak­anak
kemarin sore macam kami, disebut Sang Penyair.
Sunu Dyantoro adalah sahabat pertama yang datang dalam
hidupku seperti angin segar di musim kemarau. Tanpa perlu
banyak bicara dan tak pernah bertukar ceracau, Sunu dan aku
saling memahami dalam diam. Segera saja aku tahu, Sunu tak
ingin banyak bicara tentang keluarganya. Bulan­bulan pertama
kami di kampus, Sunu jarang berlama­lama di kantor aulagung.
Begitu tulisan kami selesai disunting, Sunu biasa pamit untuk
segera pulang membantu ibu dan ketiga kakaknya. Setelah Sunu
mengajakku ke rumahnya, barulah aku mengetahui ayah Sunu
sudah lama meninggal ketika Sunu duduk di SMa. Bu arum
berjualan batik dan perlahan­lahan membangun Rumah Batik
arum yang cukup sukses di sekitar Bantul. Tapi tentu saja
persoalan masa lalu pakde Sunu almarhum—tak pernah dikenal
oleh Sunu, karena ia menghilang saat Sunu belum lahir—terus­
menerus mengejar keluarganya. Mungkin karena Sunu juga
jarang berbicara maka kami bisa bersahabat tanpa banyak
cingcong. Tetapi dialah orang pertama yang bisa membedakan
diamku yang berarti: marah, lelah, lapar, atau kini…tertarik pada
seseorang. Di masa­masa kami kos di Pelem Kecut, setiap kali
aku membuka rak dapur yang kosong, entah bagaimana secara
ajaib Sunu akan menyelamatkan kehidupan dengan beberapa
bungkus mi instan yang dia simpan untuk masa­masa paceklik.
Karena tahu aku selalu ingin menambah rasa ekstra, dia juga
menyimpan cabe rawit, bawang putih, dan telur entah di pojok
lemari sebelah mana. Kalau aku tengah lelah dan Daniel yang
manja itu berteriak­teriak entah karena minta kami membantu

40

Laut Bercerita

memberi input untuk tugas makalah ilsafatnya yang rumit, pasti
Sunu atau alex yang akan membantu agar Daniel menyetop
kerewelan itu.
Menangani Daniel dan karakternya yang berapi­api tentu
saja tidak mudah. Kesalahan sekecil apa pun dalam hidup ini
mudah membuatnya gelisah. Daniel datang dari keluarga yang
sukar untuk menerima kritik. Bapak dan ibunya bercerai sejak
Daniel masih duduk di SMP sehingga Daniel dan adiknya, Hans
yang terkena polio sejak bayi itu, harus berpindah­pindah antara
rumah bapaknya yang sudah berkeluarga lagi dan ibunya yang
bekerja sendirian mengongkosi kedua puteranya. aku tak terlalu
paham mengapa Daniel akhirnya menjadi mudah mengeluh
dan kritis kepada siapa saja. Menurut teori Sunu yang selalu
mencoba memahami setiap kekurangan orang, sikap Daniel
yang kritis, selalu mengeluh, dan cenderung ke perbatasan
nyinyir pasti karena sebuah kompensasi: di rumahnya dia harus
menjadi kakak sekaligus ayah bagi Hans yang menderita polio
tetapi sangat brilian secara akademis. Ibunya pantang mengemis
uang dari bekas suaminya, meski seharusnya ayah Daniel tetap
wajib menakahi kedua anaknya. Dalam keadaan bergurau,
Daniel dijuluki si Filsuf Bejat karena pemuda Kawanua ini
gonta­ganti pacar setiap minggu. Tapi dalam keadaan biasa,
aku memanggilnya si Bungsu lantaran manjanya setengah mati.
Maklum, dia tak pernah bisa merengek di rumahnya sendiri. “Tak
semua keluarga harmonis dan menyenangkan seperti keluargamu,
Laut. Kau beruntung,” demikian Sunu mengucapkan berkali­
kali jika aku menggeleng­geleng melihat Sunu yang selalu saja
seperti abang yang perhatian pada adiknya. Karena Sunu sering
betul mengatakan betapa hangatnya rumahku, betapa ramahnya
orangtuaku, dan betapa Sunu tak ingin pergi dari dapur karena

LeiLa S. cHuDori

41

masakan Ibu yang membuat lidah yang beku menjadi hidup
saking nikmatnya, maka Daniel dan alex bersumpah demi langit
dan bumi akan mengundang diri mereka sendiri mampir ke
Ciputat dan merasakan apa yang dialami Sunu.
alex Perazon adalah mahasiswa paling ganteng dari seluruh
penjuru Winatra maupun Wirasena hingga sulit memberi julukan
yang konyol karena terlalu tampan dan agak menjengkelkan
kami yang buruk rupa. untung saja dia anak baik dan sopan,
kalau tidak pastilah kami sudah memberi nama­nama jahanam
untuknya. Ia menjadi sahabatku yang menyenangkan karena
kami sering berdiskusi tentang fotograi. Dia masuk ke rumah
Pelem Kecut pada semester awal sebagai satu­satunya mahasiswa
dari timur Indonesia yang bersuara bagus. Ditambah tutur
katanya yang santun, rambut ikal keriting, alis tebal, dan raut
wajah yang agak berbau Portugis itu, tak heran jika mahasiswi kos
sebelah sering betul berdatangan ke Pelem Kecut untuk sekadar
berbincang dengannya. Mungkin mereka menyukai suaranya,
atau rambutnya yang tebal dan ikal, atau mungkin juga mereka
menyukai alis matanya yang tebal betul, aku tak tahu. aku
lebih tertarik pada pengabdian alex pada seni visual hingga
dia mengatakan bahwa kameranya adalah bagian dari mata dan
tangannya, dan karena itu “tak seorang pun boleh memegang
kamera saya”. Belakangan aku baru paham, kamera tersebut
adalah hadiah dari Felix Perazon, abang alex yang kini adalah
seorang imam projo yang bertugas di beberapa Dioses Larantuka,
Ende, dan kemudian di Pamakayo, Solor. Menurut alex, Kakak
Felix atau belakangan Romo Felix nyaris menjadi substitusi ayah
pada Moses dan alex. Sang bapak wafat saat mereka, Moses dan
alex, masih duduk di sekolah dasar, sedangkan Felix si sulung
yang sudah di SMa kemudian secara sukarela menyandang

42

Laut Bercerita

beban ikut merawat kedua adiknya yang masih kecil sementara
sang ibu bekerja sebagai guru SD. Ketika Moses dan alex
secara bergantian didera bronchitis, lantas diare hingga membuat
tubuh mereka kurus, Felix­lah yang merawat, mengompres,
dan membuatkan bubur kaldu. Tak heran ketika dewasa dan
keduanya kuliah di Jawa—Moses kuliah di Fakultas Ekonomi
universitas Diponegoro sedangkan alex di Fakultas Filsafat
uGM—mereka sama­sama rajin menelepon dan menyurati Ibu
dan abang Felix yang kelak menjadi salah satu romo yang dikenal
sangat baik dan dekat dengan masyarakat Flores Timur dan Solor.
Sejak kecil, alex adalah anak yang gelisah dan nyaris bandel jika
tidak diawasi Felix, sementara Moses yang yang hanya berbeda
dua tahun lebih punya kedisiplinan dan tertib. Bahwa alex lebih
pendiam dan jarang bicara justru membuat Felix merasa adik
bungsunya perlu memiliki sebuah hobi yang lebih terarah.
Maka suatu hari, ketika alex sudah duduk di SMa,
Romo Felix membawakan sebuah kamera yang diberikan oleh
salah seorang umat parokinya. Felix mengatakan dia percaya
alex akan melakukan hal yang baik dengan kamera itu dan
menggunakannya sebagai perpanjangan mata dan hatinya. Pada
awal masa kuliah, alex sering berjalan sendirian ke pojok­
pojok Yogyakarta membuat foto esai mbok bakul, mengikuti
kehidupan keluarganya, dan bahkan berteman dengan mereka.
Rangkaian foto­foto itu jauh dari klise ‘tamasya kemiskinan’
yang sering ditampilkan oleh iklan­iklan. Dan itulah yang selalu
dikatakan alex kepada siapa pun yang mencoba­coba menyentuh
kameranya. Hingga kini, dari kwartet ini, hanya alex yang belum
sempat kuajak ke rumahku di Jakarta. Karena Ibu juga seorang
fotografer, selain juga seorang koki yang dahsyat, maka aku

LeiLa S. cHuDori

43

bercita­cita untuk memperkenalkan alex pada ibuku. untuk
waktu yang lama, keinginan itu tidak terwujud karena Kinan
memberikan tugas yang berbeda pada kami.
Tak terasa, hampir dua jam dapur itu kelihatan bersih dan
biru. Baru saja aku duduk selonjor menatap hasil karyaku berupa
tembok biru kosong dan mengagumi kompor yang semula dekil
yang kini sudah dicuci bersih oleh Sunu, seseorang masuk dan
berdiri di belakangku.
“Bagus. Rapi.”
Itu suara naratama yang berlagak seperti seorang kakak
senior. Dia masuk dan menjenguk kompor dan lemari es kecil
butut sumbangan Gusti yang keluarganya lumayan berduit.
Ketika naratama sibuk mengevaluasi hasil kerjaku di dapur
seperti seorang mandor, aku pura­pura memejamkan mata,
mengamankan diriku dari keharusan berbincang dengan Tama.
“Ini lemari es dari mana? Jelek amat….”
“Dari Gusti,” jawabku lega karena dia tak menyinggung soal
anjani. “Katanya, kalau mati, ditendang saja, bakal nyala lagi,”
aku menjawab sambil tetap rebahan.
Terdengar suara tawa yang kecil. Tiba­tiba…
“Soal anjani…”
Dadaku langsung sibuk menghentikan jantungku yang repot
berdetak.
“Kau tak akan bisa memperolehnya dengan bersembunyi.
Kau harus menghampirinya dan menggenggam tangannya tanpa
pernah melepasnya lagi,” naratama tertawa meninggalkan dapur.
asu!

44

Laut Bercerita

DEnGan cara yang ganjil, naratama seperti muncul begitu
saja dalam hidup. Tak ada satu pun kawan yang mengenal atau
mengetahui keluarga atau kehidupan pribadinya. Kawan­kawan
lain biasanya satu saat akan bercerita tentang bapak atau ibu
atau adik­kakak mereka, meski kami tak selalu mengenal dengan
dekat. Tapi Tama seperti sebuah pulau misterius di antara pulau­
pulau lain yang jelas warna dan formatnya. Justru karena dia
agak menyimpan misteri, para perempuan—Kinan dan anjani
misalnya—cenderung tertarik dan selalu memaklumi tingkah
lakunya yang tengil itu.
Perkenalanku dengannya tak sepenting perkenalanku dengan
Sunu, Daniel, alex, apalagi Bram. Kami bertemu di warung Bu
Retno setahun lalu, sekilas begitu saja tanpa kesan. aku bahkan
lupa bagaimana kami bertemu jika Tama tak selalu mengulang­
ulang ke setiap aktivis yang dia temui, “aku bertemu Laut waktu
dia sedang diplonco Kinan,” sembari menyambung kalimatnya
dengan serangkaian tawa yang terkekeh­kekeh seakan­akan ada
yang lucu dari ucapannya. Pertama­tama, aku tidak merasa
diplonco Kinan. Kedua, aku tak paham mengapa Tama selalu
mengulang­ulang kalimat yang meremehkan itu.
Dari begitu banyak mahasiswa dan aktivis yang mulai
wara­wiri di Seyegan, entah bagaimana Tama selalu berhasil
menemuiku saat aku sendirian. Dia akan duduk di sampingku,
memberi komentar tentang salah satu diskusi atau kelas yang
diselenggarakan, mencemooh beberapa mahasiswa yang bebal
sekali memahami isi diskusi, atau mungkin mengomentari satu
dua pertanyaan atau komentar yang menggelikan. Cemooh dan
sinisme Tama terutama ditujukan kepada mahasiswa pemula
dan hijau yang sudah mencoba bersentuhan dengan pemikiran
yang berat dan mencoba­coba langsung membaca buku­buku

LeiLa S. cHuDori

45

pemikiran kiri yang sebetulnya sudah merupakan kritik para
kritikus Marxisme, misalnya. Sebetulnya aku paham mengapa
Tama merasa frustrasi dan sering meninggalkan kelas; seperti
Kinan, Daniel, alex, dan Sunu, bacaan Tama sudah sangat
maju. Bedanya, jika Kinan dan Sunu hanya akan mengeluarkan
kutipan atau pengetahuan saat dibutuhkan, Tama cenderung
menggunakannya untuk melecehkan. Daniel pun terkadang tak
sabar dengan kepolosan anak­anak semester satu yang bacaannya
masih minim—menunjukkan betapa Daniel atau Tama sering
lupa bahwa anak Indonesia tidak tumbuh dengan kebiasaan
membaca atau berlatih berpikir kritis—sehingga dia juga cerewet
di kelas­kelas yang kami selenggarakan. Bedanya dengan Tama,
kecerdasan Tama mencapai tahap menertawakan atau menusuk
lawan bicaranya dengan komentar yang meremehkan. Sikap
seperti ini malah membuat Daniel—juga aku, alex, dan Sunu
dalam diam tentu saja—merasa sukar untuk menyukai Tama.
Seperti pada salah satu diskusi yang menampilkan Bram
sebagai pembicara yang tentu saja bersifat pedantik. Ketika itu
Bram mendiskusikan bagaimana menariknya membandingkan
situasi politik Cile di masa pemerintahan Salvador allende
tahun 1973 dengan Indonesia tahun 1965. Bagaimana kedua
negara sama­sama agak didominasi pemikiran kiri, tapi lantas
dihajar oleh kekuatan militer. Salah satu mahasiswa dengan
polos bertanya apa yang harus mereka lakukan dengan sejarah
versi pemerintah yang mereka peroleh sejak SD hingga kini di
perguruan tinggi terutama bagi mereka yang mengambil Sastra
Sejarah. Bram menjawab, salah satu tujuan diskusi dan kelas­
kelas pemikiran politik dan ilsafat yang diadakan di Rumah
Hantu Seyegan, dan sebelumnya di Pelem Kecut, adalah agar
mereka membaca dan mendiskusikan bacaan alternatif. Dan

46

Laut Bercerita

itulah salah satu tujuan berdirinya kelompok studi dan gerakan
Winastra: untuk mendiskusikan berbagai pemikiran alternatif
guna melawan doktrin pemerintah yang sudah dijejalkan kepada
kita sejak Orde Baru berkuasa.
aku mendengar suara cetusan tawa kecil bernada sinis. Ku­
dengar jelas Tama tengah menggerutu betapa bodohnya si maha­
siswa hijau yang menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya.
“Mungkin Tama ingin menambahkan?” Bram yang kukenal
seperti seorang kakak tertua yang harus memayungi adik­adiknya
itu tersenyum pada Tama. Tapi aku melihat di dalam senyum
diplomatis itu terkandung kejengkelan yang terpendam.
Tama berdiri. aku tersedak dan aku bisa melihat bagaimana
Kinan, Sunu, Daniel, dan bahkan anjani tak menyangka Tama
akan berdiri di antara kami semua yang duduk bersila di atas
tikar.
“Diskusi penting. Bergulat pemikiran itu wajib…,” katanya
dengan fasih. Lalu dia menyandarkan punggungnya ke tembok
yang beberapa hari lalu sudah kering. anjani melukisnya dengan
serangkaian panel komik perjalanan Tan Malaka, alex memotret
Tama pada sudut pandang yang bagus untuk sebuah pose.
Tama mendelik melihat kelakuan alex tapi tak berkata apa­apa.
alex memang selalu cerdas dan selektif mengambil momen.
Dia juga sering berhasil merogoh jiwa orang yang dipotretnya.
Sementara Gusti, penggemar berat lampu blitz itu ikut­ikutan
memotret hingga menyilaukan mata. Dari jauh aku memberi
kode kepada mereka berdua agar menyetop aksi paparazi itu
karena sungguh mengganggu. alex dan Gusti langsung saja
dengan patuh menyetop kegiatan mereka.

LeiLa S. cHuDori

47

“Tetapi suatu saat kita harus bergerak. Tak cukup hanya
sibuk berduel kalimat di sini. Kita sudah harus ikut menjenguk
apa yang sudah dilontarkan oleh Petisi 50 dan beberapa tokoh­
tokoh yang mengkritik lima paket undang­undang Politik. Kita
adalah generasi yang harus bergerak, bukan hanya mendiskusikan
undang­undang yang mengekang kita selama puluhan tahun di
bawah tekanan satu jempol.”
Monolog naratama memang benar dan sebetulnya sudah
sering kami bicarakan dalam rapat antar­pengurus Winatra.
Sudah jelas dia tak termasuk dalam lingkar dalam yang dibentuk
Bram dan Kinan. Mungkin Tama tak tahu bahwa kami sudah
mendiskusikan tuntutan soal dwifungsi aBRI dan lima undang­
undang Politik yang harus dihapus. Hanya saja kami memang
belum meluncurkan strategi ini ke kampus­kampus karena
kami sedang menyusun kompi­kompi ke berbagai kampus. atau
mungkin juga ini bentuk protes Tama yang merasa tidak diajak.
Itu pula sebabnya naratama selalu mencari waktu dan kesem­
patan untuk memberikan monolog atau satu dua kalimat protes
setiap kali kami mengadakan kelas, diskusi, atau rapat umum.
Seperti saat kami mengundang Pak Razak untuk berkisah
tentang pengalamannya di Pulau Buru selama belasan tahun dan
kembali ke Jakarta untuk tetap dianggap sebagai musuh negara;
tentang istri, anak­anak, dan kakak adiknya yang masih saja
kesulitan mencari nakah dan mengubah nama agar tak terlalu
kentara bahwa mereka ada hubungannya dengan seorang bekas
tahanan politik dari Pulau Buru. Dengan segala kesulitan hidup
itu, Pak Razak menyatakan, “Masih berharap suatu hari, entah
kapan, keadilan akan tiba.” Demikian dia menutup pengantar
diskusinya.

48

Laut Bercerita

Sekali lagi terdengar suara yang gaduh dari tenggorokan
Tama. antara cemooh dan pesimisme. Kali ini Bram melirik
tak sabar.
“Bicaralah naratama! Jangan hanya mendengus.”
aku menciut mendengar suara Bram yang menggelegar dan
mengucapkan nama Tama dengan lengkap. Tama tak gentar. Dia
berdiri dan kembali membersihkan kerongkongannya.
“Saya hanya pesimistis. Kawan­kawan kita yang hanya berdis­
kusi karya Pak Pram saja sekarang sudah dipenjara, bagaimana
kita bisa berharap para tapol dan keluarganya akan memperoleh
keadilan, rehabilitasi nama, dan pemulihan jiwa? Bukan Pak
Razak saja, tetapi jutaan korban yang dibunuh pada tahun 1965
sampai 1966….” Tama berbicara dengan mata menyala­nyala.
“Itu pertanyaan kita semua, Tama. Itulah sebabnya kita ber­
ada di sini, berdiskusi, mendata, dan melawan sejarah palsu
buatan mereka dengan terus mengumpulkan kesaksian lisan dari
orang­orang seperti Pak Razak,” narendra menimpali dengan
penuh tekanan.
“Mengapa aku tak percaya apa pun yang dikatakan Tama,”
Daniel yang bersila di belakangku menggerutu. Sunu yang duduk
bersila di sebelahku hanya menunduk memandang tikar. Dan itu
berarti Sunu menyetujui gerutu Daniel, namun tak cukup fakta
yang mendukung pendapat yang hanya tercetus berdasarkan rasa
tidak suka itu.
“Maksudmu…tak percaya bagaimana, Dan?” Gusti mencoba
memotret Tama dari sudut yang jauh. Beberapa kali. Penuh kilat
yang menyilaukan mata. Sekali lagi aku menutup lensa Gusti.
Bukan karena kamera yang digunakan, tetapi aku tak tahan

LeiLa S. cHuDori

49

dengan serangan cahaya blitz yang mengganggu ruang pribadi
setiap orang.
“Maksud Daniel, Tama terlalu berapi­api. ada sesuatu yang
aneh di balik api itu,” kata Sunu dengan suara pelan.
“Kemarin dia membawa satu kardus mi instan. Dia tak
pernah kehabisan duit,” kata Julius menimpali.
Di depan, suara Bram masih terdengar keras, merebut per­
hatian dan bergelora. Sementara Sunu, Daniel, Gusti, Julius,
alex, dan aku memandang naratama dari jauh dengan rasa tak
nyaman.

Di Sebuah tempat,
di Dalam Gelap, 1998

aKu tak bisa menggerakkan leherku. Penglihatanku gelap.
Mulutku terasa asin darah kering. Hanya beberapa detik, aku
baru menyadari apa yang terjadi. aku ingin membuka mataku,
tapi sukar sekali. Bukan saja karena bengkak dan sakit, tapi
perlahan­lahan aku teringat salah satu dari mereka menginjak
kepalaku dengan sepatu bergerigi.
Rasanya baru beberapa jam yang lalu, atau mungkin kemarin.
aku tak tahu.
Tulang­tulangku terasa retak karena semalaman tubuhku
digebuk, diinjak, dan ditonjok beberapa orang sekaligus.
Di manakah aku? Begitu gelap.
Kucoba menggerakkan kepalaku, masih juga sulit.
akhirnya aku menyerah dan membiarkan diriku telung­
kup beberapa lama sebelum bangsat­bangsat itu datang lagi
menghantamku.

LeiLa S. cHuDori

51

Yang aku ingat, beberapa jam lalu, atau mungkin kemarin
ketika mereka meringkusku adalah tanggal 13 Maret 1998, persis
bertepatan dengan ulang tahun asmara. aku ingat betapa aku
ingin sekali meneleponnya untuk mengucapkan selamat ulang
tahun dan menjanjikan buku apa saja yang disukainya, tapi
mustahil. Di masa buron seperti ini segala medium komunikasi
dengan keluarga harus diminimalisir. Karena itu aku hanya
mengucapkan selamat ulang tahun dalam hati belaka.
aku masih ingat, rasanya sehabis magrib aku tiba di rumah
susun Klender, tempat Daniel, alex, dan aku menetap selama
beberapa bulan terakhir. aku baru saja pulang dari kampus
uI di Depok untuk rapat mahasiswa yang membuat hati pegal
karena berkepanjangan. Daniel berjanji akan tiba satu jam
lagi membawakan makanan, sementara alex sudah memberi
pesan akan tiba tengah malam. Sejak kami buron dua tahun
lalu, Daniel menjadi lebih dewasa dan memperlakukan kami
sebagaimana dia memperhatikan adik lelakinya, Hans. Dalam
keadaan buron, Daniel pula yang selalu mengingatkan agar kami
selalu mengomunikasikan posisi kami sekerap mungkin. apalagi
sejak menghilangnya Sunu dua pekan lalu.
Malam itu terasa semakin malam. Tiba­tiba saja aku merasa
seluruh isi Jakarta tak bergerak. aku ingat betul begitu tiba di
rumah susun, aku merasa agak gerah, maka kuputuskan untuk
langsung mandi. Begitu keluar dari kamar mandi, aku baru
menyadari bahwa lampu padam. Ini memang bukan sesuatu yang
ganjil di rumah susun yang sering mengalami pemadaman listrik.
Sambil meraba­raba mencari senter, aku segera bisa melihat dari
jendela bahwa bagian lain rumah susun ini terang benderang.
aku berganti kaos dan menjerang air untuk membuat kopi.
Karena aku sudah mulai lapar dan tak sabar menunggu makanan

52

Laut Bercerita

yang akan dibawa Daniel, maka aku mengoprek lemari dapur,
barangkali saja masih ada sisa mi instan. Tiba­tiba terdengar
suara ketukan pada pintu. Suara ketukan yang terdengar keras
dan tak sabar. aku tak langsung membukanya. Jantungku mulai
berdebar­debar. Perlahan aku melangkah ke dalam kamar dan
melongok ke arah luar jendela. Karena kamar kami berada di
lantai dua rumah susun, aku bisa mengintip ke bawah. Kulihat
ada beberapa lelaki berbadan kekar mengenakan seibo, penutup
wajah wol.
Tiba­tiba saja aku teringat Sunu. Mungkin orang­orang ini
adalah kelompok yang sama yang telah menculik sahabatku itu.
Gedoran pada pintu semakin keras dan terdengar mereka berhasil
menggebrak. aku tak bisa lagi berlari atau melompat keluar
jendela. Empat orang langsung masuk dan segera merangsek ke
kamar dan mengepungku.
“Mau mencari siapa?” aku bertanya berlagak tenang, seolah
adalah hal yang biasa menghadapi empat orang tak dikenal yang
begitu saja masuk ke rumah dan mengelilingiku.
“Tak usah tanya­tanya, ikut saja!” bentak salah seorang yang
bertubuh besar dan tinggi seperti pohon beringin. Jika aku sok
rewel pasti dia mudah sekali mencabut nyawaku. Jadi dengan
dua lelaki kekar yang langsung menggiringku, satu seperti
pohon dan satunya lagi seperti raksasa, aku berusaha menggeliat
memberontak. Tapi salah seorang dari mereka menodongkan
sebuah benda dingin ke punggungku. Seluruh tubuhku terasa
kaku karena aku tahu itu adalah moncong pistol. Salah satu
dari mereka, katakanlah namanya si Pengacau, mengaduk­aduk
ranselku yang tergeletak di atas kursi. Sial, mengapa aku lupa
menyembunyikannya. Di situ ada foto anjani. Semoga dia tak

LeiLa S. cHuDori

53

menemukannya. Si Pengacau malah menemukan sebuah kartu.
astaga, kartu penduduk asliku dengan nama asli pula. Mengapa
justru pada hari ini aku memutuskan menggunakan ransel yang
berisi lengkap?
“Benar. Dia Biru Laut. Sekjen Winatra!”
Salah seorang dari mereka lagi maju perlahan. Gaya me­
langkahnya seperti koboi yang merasa bisa menaklukkan semua
musuh hanya dengan satu tembakan. Dia sama sekali tak menge­
nakan seibo, tidak terlalu tinggi, bertubuh gempal hingga aku
bisa melihat ototnya yang menyembul dari kemeja dan rambut
cepak seperti tentara. Dia menatapku tajam dengan bola matanya
yang besar dan agak merah. napasnya yang berbau rokok
menghambur ke wajahku. Sementara kedua lelaki kekar setinggi
pohon tadi memegang kiri kananku seolah aku seorang atlet yang
mampu melarikan diri secepat angin.
“Biru Laut...aku selalu bertanya­tanya, apakah ini nama
samaran belaka seperti amir Zein, Jayakusuma, Rizal amuba.
Ternyata Biru Laut memang nama yang diberikan orangtuamu....”
Dia tersenyum kecil. Hebat sekali si Mata Merah ini. Hanya
dia yang tak mengenakan seibo sehingga dia tahu risikonya
bahwa suatu hari aku akan bisa mengingatnya. Dia tahu semua
nama samaranku. Hampir semua. Dia pasti bukan pembaca
koran, apalagi halaman sastra, jadi dia tak tahu nama Mirah
Mahardika. Dan si Mata Merah pastilah pemimpin ketiga lelaki
bertubuh raksasa yang kelihatan seperti robot yang siap sedia
melaksanakan perintah tuannya.
Si Mata Merah memberi kode kepada si Manusia Pohon
dan si Raksasa untuk membawaku. Si Pengacau hanya membun­
tuti kami sambil bersiul­siul dengan nada yang tak jelas. Ketika

54

Laut Bercerita

kami tiba di luar pintu, angin malam berdesir. Tiba­tiba saja aku
merasa gentar. Bukan karena aku tak siap digempur atau dihajar,
tetapi karena aku tak tahu siapa yang tengah kuhadapi. Tiba di
pekarangan rusun, aku berharap ada tetangga yang melihat kami
dan barangkali saja sudi melaporkan pada keamanan kampung
atau paling tidak berteriak minta pertolongan. Ternyata senja
itu sungguh sepi, mungkin para tetangga tengah salat atau
bercengkerama dengan keluarga. Barangkali sore itu tak menarik
untuk duduk di teras memperhatikan langit senja. Siapa yang sudi
berpretensi seromantis itu, di rumah susun yang terasnya selalu
penuh sesak dengan rentengan gantungan cucian yang malang
melintang? Tidak. aku sudah pasti sendirian tanpa bantuan siapa
pun. aku hanya melihat dua buah kendaraan Kijang berwarna
gelap yang menanti kami dengan mesin mobil menyala. Si
Pengacau menendang punggungku hingga aku jatuh tersungkur
di depan mobil. ah! Taik.
Dalam keadaan berlutut si Pengacau mendekatiku dan menu­
tup mataku dengan kain hitam. Erat. Hitam.
Setelah yakin aku hanya bisa melihat gelap, si Pengacau men­
dorongku masuk ke dalam mobil.
Dengan mata tertutup kain hitam aku sama sekali tak bisa
menebak rute yang dipilih pengemudi. Tapi aku bisa menebak
bahwa yang duduk di depan adalah si Mata Merah karena aku
bisa mencium aroma kretek, yang mengemudi pasti si Pengacau,
sedangkan kedua Manusia Pohon yang pasti jarang mandi
menjepit di kiri dan kananku.
Di mobil, mereka semua bungkam. Kaca tertutup rapat.
Salah seorang dari mereka memasang kaset house music. ah
aku tak tahan dengan musik yang repetitif seperti ini. Tapi apa

LeiLa S. cHuDori

55

yang bisa kuharap dari empat manusia berotot ini? Kami seperti
diguncang oleh selera musik yang buruk. Mobil itu melesat
kencang. aku mencoba tidur, tapi sial sekali. Musik jelek itu
mengganggu telingaku dan aku masih terlalu cemas menebak­
nebak tujuan kami. Mungkin kira­kira sejam kemudian akhirnya
mobil berhenti. Belum lagi aku menebak lokasi kami, tiba­tiba
saja aku mendengar suara handy talkie mencericit dari arah
kursi depan.
“Elang. Elang!”
Mungkin itu semacam kode mereka. Terdengar suara derit
dan bunyi pintu pagar seret yang dibuka. Mobil meluncur, hanya
beberapa detik kemudian mobil berhenti, dan kedua manusia
pohon di kiri kananku langsung keluar. aku ditarik keluar dari
mobil. Dengan mata masih tertutup rapat, mereka menggiringku
masuk ke sebuah ruangan. udara dingin menghambur ke wajah­
ku. alat pendingin pasti dipasang hingga maksimal. Terdengar
suara orang­orang yang berseliweran, berbincang dan tertawa.
aku sungguh tak bisa menebak posisiku saat ini. aku hanya
merasa ruangan itu luas dan mungkin ada lebih dari sepuluh
orang di sana. Salah seorang dari mereka memegang bahuku
dan memaksaku duduk di kursi. Tiba­tiba saja perutku dihantam
satu kepalan tinju yang luar biasa keras. Begitu kerasnya hingga
kursi lipat itu terjatuh dan terdengar patah. aku menggelundung.
Belum sempat aku bangun, tiba­tiba saja tubuhku diinjak dan
ditendang, mungkin oleh dua atau tiga orang. Bertubi­tubi hingga
telingaku berdenging, kepalaku terasa terbelah, dan wajahku
sembap penuh darah. asin dan asin darah. Kain hitam penutup
mataku sudah koyak dan aku tetap tak bisa melihat karena
mataku sembap.

Laut Bercerita

56

Mereka meninggalkan aku dalam keadaan tengkurap hingga
beberapa saat lalu.
Meski aku sudah mulai ingat bahwa kini aku berada di
sebuah ruangan yang sangat dingin, aku belum bisa bergerak.
Leherku luar biasa sakit, mereka menginjaknya berkali­kali.
apakah aku akan mati?
Pada saat itu, antara rasa asin darah dan mata yang beng­
kak dan sembap, bayang­bayang Maut berkelebat di hadapanku.
Dia tersenyum dan memberi pesan bahwa dia hanya sekadar
numpang lewat dan belum bermaksud mencabut nyawaku.

“BanGun lu!!”
Seember air es disiramkan ke sekujur tubuhku. Gila! aku
terbangun begitu saja. Bukan karena merasa seluruh tulang sudah
membaik atau tubuhku segar tapi karena luka­luka di seluruh
badan dikejutkan oleh air dingin dan pecahan es batu. Bangsat!
Dengan segera sepasang tangan mengikat kain hitam penutup
mataku dengan erat. aku dipaksa berdiri. Lantas sepasang tangan
menggiringku ke sebuah tempat tidur atau velbed, aku merasa
tak jelas sampai akhirnya mereka memaksaku untuk berbaring.
Tangan kiriku diborgol ke sisi velbed sedangkan kakiku diikat
kabel.
Tidak lama kemudian aku mendengar seseorang menyeret
kursi dan duduk di pinggir velbed yang agak rendah. Dari
napas dan bunyi langkahnya, aku yakin si Mata Merah ada
di sampingku. Benar saja. Suaranya yang dalam dan menekan
menanyakan di manakah Gala Pranaya dan Kasih Kinanti?
Siapa saja yang mendirikan Winatra dan Wirasena? Siapa yang

LeiLa S. cHuDori

57

membiayai kegiatan kami? aku merekat bibirku. ada sedikit
kelegaan bahwa kedua sahabatku masih belum tertangkap. aku
merapatkan bibir, pura­pura tuli. Kali ini lelaki lain, mungkin
para Manusia Pohon, berteriak di telingaku. Mana Kasih Kinanti,
mana Gala Pranaya. aku tetap diam dan bahkan mencoba
tersenyum mengejek. Mungkin mereka jengkel, mungkin mereka
marah dengan reaksiku. Terdengar krasak­krusuk tangan­
tangan yang berbenah dan tiba­tiba saja sebuah tongkat yang
mengeluarkan lecutan listrik menghajar kepalaku. aku menjerit
ke ujung langit. Seluruh tulangku terasa rontok.
aku berteriak­teriak menyebut nama Tuhan. Tapi suaraku
sulit keluar. Setrum listrik itu seperti menahan segalanya di
tenggorokanku.
Begitu aku mencoba membuka mulut lagi, sebuah sepatu
bergerigi menginjak mulutku.
Terdengar suara si Mata Merah menyuruh anak buahnya
yang bangsat itu untuk menghentikan tingkahnya.
“ada beberapa rapat dengan tokoh­tokoh ini...,” suara Mata
Merah menyebut nama­nama besar politikus yang kini dianggap
sebagai musuh besar pemerintah. Putri proklamator yang
posisinya sebagai ketua partai digusur oleh ‘kongres tandingan’.
Beberapa nama tokoh yang selama ini kritis terhadap Presiden
Soeharto. Jika saja aku tidak kesakitan luar biasa setelah disetrum,
aku ingin sekali tertawa terbahak­bahak. Kami menentang Orde
Baru, itu jelas. Itu adalah rezim keji. Tapi sampai rapat dengan
nama­nama besar itu? Para lalat ini pasti pemalas hingga gemar
sekali mengarang­ngarang cerita. aku hanya mengenal nama­
nama itu dari media, bagaimana mungkin aku bertemu dengan
mereka.

58

Laut Bercerita

Entah karena aku diam saja atau mungkin tak sengaja me­
nyeringai, mereka membentak­bentak dengan suara nyaring.
aku mendengar suara meja mesin setrum yang diseret lebih
dekat pada posisi kami. Kali ini salah satu penyiksa itu menem­
pelkan dua buah logam pipih ke pahaku, sakitnya menyerang
hingga ke dada. aku megap­megap mencari udara. Sesekali
napasku terputus. Tersengal­sengal. Sekali lagi aku melihat Maut
berkelebat di hadapanku. aku tak paham bagaimana aku bisa
melihat bayang­bayang pencabut nyawa bolak­balik padahal
mataku tertutup dan aku hanya bisa melihat gelap. Mungkin
Tuhan mengizinkan aku melihat utusannya…atau mungkin aku
tengah berilusi. Sayup­sayup aku mendengar suara si Mata Merah
yang dalam dan berat itu menegur hamba­hambanya agar jangan
menyetrum wilayah dada.
aku tak tahu apa yang selanjutnya terjadi. Tiba­tiba saja
segalanya gelap. aku tak sadar diri.

EnTaH pukul berapa, tiba­tiba saja aku disentakkan suara
alarm yang nyaring. aku sulit bergerak karena rasanya seluruh
tulang yang menopang tubuhku tak berfungsi. Tiba­tiba saja
aku mendengar suara yang sangat kukenal. Daniel! Dia menjerit
dan meraung­raung. aku tak tahu apakah aku lega mendengar
suara yang kukenal atau malah khawatir karena Daniel kurang
tahan dengan ketidaknyamanan. apalagi siksaan. ah dengarlah
dia berteriak begitu kencangnya memanggil ibunya, memanggil
namaku, memanggil Yesus. aku juga bisa mendengar suara
setruman yang meletik. Pasti terkena syarafnya hingga lolongan
Daniel memenuhi ruangan. Taik mereka semua!

LeiLa S. cHuDori

59

aku mencoba memberontak dari ikatan tangan dan kakiku,
meski aku tahu tak mungkin aku bisa terlepas begitu saja. Tiba­
tiba sebuah tinju melayang menabok kepalaku. aku berhenti
memberontak. Suara Daniel makin meninggi. Dan tiba­tiba
kudengar pula suara alex yang mengerang­ngerang. Terdengar
suara gebukan dan tendangan. Para penyiksa terdengar seperti
berpesta seraya menghajar alex. Rupanya kedua sahabatku itu
diambil tak lama setelah mereka menculikku.
Kali ini di dalam gelap, aku tak hanya melihat Maut ber­
kelebat secepat cahaya, tetapi juga bayang­bayang Sang Penyair.
Tersenyum dengan matanya yang sedih.

ciputat, 1991

DI HARI KEMATIANKU

Di hari kematianku
Nyalakan apimu
Karena satu jiwa yang kandas
Tak akan menghilangkan
Rindu pada keadilan
Di hari kematianku
Genapkan malam-malam itu
Menjadi pagi
Yang penuh kepal ke udara
“Ingin kukatakan, kita telah merdeka”
Mata yang lapar
Perut yang gusar

LeiLa S. cHuDori

61

Burung yang tertembak
Jiwa yang merangkak
Tak mungkin kita tak bersuara
Tak mungkin kita tak menyala-nyala
Tak mungkin kita tak meniup serunai
Maka di hari kematianku, kawan
Pastikan suaraku datang laut
Pastikan jiwaku menjadi bagian dari api
Pastikan ruhku menghidupi sajak ini
Biarkan kata-kataku meniupkan roh perlawanan ini
TIBA-TIBA saja dia sudah berada di sisiku. Sang Penyair.
Bersandar pada karang besar. Aku bahkan tak sempat bertanya
apakah dia juga disiksa dulu, lalu dibunuh, dan ditendang ke
dasar laut? Sungguh aku merindukan suara dan tawanya. Dia
tampak begitu serius.
“Kau selalu tak nyaman dengan beberapa kawan,” dia berkata
dengan lembut, “dan insting seperti itu memang penting dipelihara.”
Aku ingin menjawab, tapi tenggorokanku terganjal.
“Tetapi kau harus berhati-hati. Yang mencurigakan dan yang
banyak tingkah belum tentu sang pengkhianat….”
Tubuh Sang Penyair yang tipis itu masih sama. Di atas mata
kirinya terlihat bekas jahitan yang cukup panjang. Dia terlihat
begitu bersinar tapi toh (sekaligus) begitu sederhana.
“Jenguklah keluargamu,” katanya lirih.

62

Laut Bercerita

SEBuaH gambar yang nyaris sempurna….
Hari itu, aku tiba tepat pukul lima sore di depan pintu rumah.
Di sebuah hari Minggu. Matahari senja yang menggelincir
mengusap­usap jendela yang dinaungi pohon kemboja kuning.
aku bisa mencium aroma kuah tengkleng yang mengisi
rumah orangtuaku. Sudah pasti di hari Minggu sore seperti
ini Ibu memasak untukku, karena dia tahu aku akan mencoba
sebisaku menjenguk Jakarta setiap bulan pada akhir pekan
keempat. namun, karena kesibukan kuliah dan lebih lagi karena
keterlibatanku dengan Winatra, sulit sekali menemukan waktu
untuk menjenguk Jakarta. Sudah tiga bulan aku tak mengunjungi
Ciputat. Kalau bukan karena asmara mengirim pesan melalui
pager dengan nada mengancam, mungkin aku akan menunda
kunjunganku ke Jakarta.
“Kalau kau tidak datang juga akhir pekan ini, kami akan
datang ke Yogya!”
ancaman asmara cukup membuatku terbirit­birit menyam­
bar beberapa baju dan buku, menjejalkannya ke dalam ransel
dan langsung memberi pesan kepada Kinan dan Sunu bahwa
aku harus menjenguk orangtuaku. Tentu saja aku tahu bahwa
ancaman asmara hanya gertak belaka. Tak mungkin orangtuaku
akan begitu saja datang ke Yogya. asmara tahu betul bagaimana
aku menjaga ruang pribadiku dengan ketat dan tak ingin Bapak
Ibu mengutak­atik kehidupanku di Yogya. Karena itulah dia
mengusulkan agar Bapak membelikanku alat setan bernama
pager supaya dia bisa menerorku setiap saat. Di dalam kelompok
Winatra, hanya Bram, Gusti, Daniel, dan aku yang memiliki alat
setan ini. Yang lainnya masih menggunakan telepon, faksimili,
atau cukup menitip pesan di warung atau lewat kurir khusus.

LeiLa S. cHuDori

63

aroma bumbu campuran kunyit, kemiri, dan daun jeruk
yang dipadu santan cair itu bukan hanya merangsang hidungku,
tetapi juga mendorong langkahku menuju dapur. Sudah pasti
Ibu, Bapak, dan asmara berkumpul di sana dan merubung meja
tengah tempat merajang bumbu. Betul saja. Pemandangan indah
itu. Ibu yang tengah mengaduk­aduk sebuah panci besar berisi iga
kambing dan tulang sumsum serta kepala Bapak yang melongok
dan tampak tak sabar karena mencelupkan sendok besar untuk
mencicipinya. aku mendehem. Seketika keduanya menoleh dan
menyerukan namaku. Ibu mengecilkan api kompor sedangkan
Bapak langsung saja berjalan menghampiri dan memelukku.
aku menghampiri ibuku yang sedang mengelap tangannya ke
celemek dan aku mencium punggung tangannya yang masih
bau kunyit dan bawang putih yang membuatku semakin rindu
sekaligus terharu. Ibu memelukku erat­erat seraya menggeremeng
mempertanyakan ke mana saja bocah lanangnya ini.
“Maaf…maaf, Bu,” kataku sambil meletakkan ransel di pojok
dapur dan mencuci tangan di basin.
“Coba nih.” Ibu menciduk satu sendok kuah tengkleng dan
menyodorkannya ke mulutku.
aku menutup mata dan mencobanya. Ini adalah ritual kami
setiap kali Ibu memasak. asmara atau aku mencicipinya sambil
menutup mata dan mencoba menebak bumbu­bumbu yang
terkandung dalam masakan Ibu. Menurut Ibu, itu adalah ujian
kemuliaan rempah­rempah agar hidung kami bisa jauh lebih
tajam daripada mata kami.
Kuah tengkleng itu terasa hampir sempurna. Semua bumbu
dasar bawang merah, bawang putih, kemiri, kunyit, lengkuas, jahe
sudah teraduk menyatu dengan santan cair dan meresap begitu

Laut Bercerita

64

saja ke lidahku. aku juga bisa merasakan aroma daun jeruk,
daun salam, dan serai. aku mencoba mencari kekurangannya.
“Bu..,” kini aku tahu kekurangannya, “Ibu belum mema­
sukkan gula merah.” akhirnya aku membuka mataku.
Ibu tersenyum mencium pipiku dan mengambil toples
gula merah. Dia membuka tutup toples pemberian Eyang dan
memintaku memasukkan gula merah yang sudah diiris­iris halus
oleh Mbak Mar. aku mengambil sejumput dan memasukkannya
ke dalam panci besar yang aromanya membuat perutku bergejolak.
“Jadi, kamu sibuk apa, Mas, sampai begitu lama ndak nengok
Ciputat?” Ibu mengaduk­aduk lagi.
“ujian dan tugas esai, Bu, bertumpuk,” aku menghela napas
lega karena Ibu tampak sudah memaakanku.
“Oh, ujian?”
Tiba­tiba saja muncul suara asmara yang berisi tuntutan
menekan menyeruak masuk ke dapur. Dia memelukku dari
belakang lalu menjawil kupingku. aduh.
“ujian taik kucing. Memangnya aku tidak tahu kau sudah
jarang menetap di tempat kosmu,” dia berbisik galak.
Detak jantungku berhenti seketika. aku lebih jeri jika
kegiatanku terungkap oleh asmara daripada penyamaranku
ketahuan polisi atau tentara. asmara akan jauh lebih kejam
daripada mereka, percayalah. Sambil berpura­pura budek aku
mengambil sendok pengaduk dari tangan Ibu dan mencicipi
kuah tengkleng yang sudah hampir selesai itu, lalu menam­
bahkan irisan daun jeruk agar terasa lebih segar, sementara
Mbak Mar memasak nasi dan menyiapkan acar bawang dan
bawang goreng untuk pendamping makan sore. Kulihat Bapak
membantu menutup meja, menyediakan empat buah piring. Dia

LeiLa S. cHuDori

65

senang melakukan itu setiap hari Minggu sore, satu­satunya hari
keluarga.
Makan malam di hari Minggu memang sebuah kebiasaan
yang sudah ditanamkan Bapak sejak kami masih kecil di Solo.
Karena Ibu sering menerima pesanan katering untuk acara
perkawinan atau khitanan, maka asmara dan aku sudah sangat
terbiasa membantu Ibu memasak. Itu semua sebetulnya dimulai
sejak kami sama­sama duduk di sekolah dasar. aku duduk di
kelas empat dan asmara kelas dua. aku lebih suka menyendiri
membaca, sedangkan asmara mempunyai sekelompok kawan
yang ke mana­mana selalu bergerombol. Satu­satunya kegiatan
kami bersama adalah menjadi siaga di dalam Pramuka dan sudah
jelas asmara telah memperlihatkan kecerdasannya menguasai
kode morse dan semapor di usia sedini itu Tetapi, bagaimanapun
populernya adikku itu di antara kawan­kawannya, sejak kecil
dia selalu membutuhkan “validasi” abangnya. apa pun yang
dilakukannya, dia pasti bertanya, “Iyo to, Mas? Iyo?” dan karena
aku sangat tak suka diganggu, apalagi Bapak sering memberikan
buku­buku berbahasa Inggris yang membutuhkan konsentrasi
dua kali lipat daripada bahasa Indonesia, aku selalu mengangguk
pada apa pun yang dinyatakannya. Sampai pernah suatu hari
dia memaksa aku ikut petak umpet bersama kawan­kawan
perempuannya yang berisik di halaman rumah kami. Giliran
aku dan kawan­kawannya bersembunyi, aku sengaja bersembunyi
sejauh mungkin di rumah tetangga hingga asmara menjerit­jerit
mengadu pada ibuku bahwa “Mas Laut hilang diculik”.
Karuan saja ibuku yang saat itu tengah sibuk mencoba resep
baru bersama Mbak Mar mencari­cariku yang asyik selonjor
di teras belakang tetangga dengan buku he Tale of Two Cities
Charles Dickens di tanganku. Mendengar gerabak­gerubuk itu

Laut Bercerita

66

aku segera berlari kembali ke rumah, masuk ke dapur dan pura­
pura sibuk mencicipi tempe goreng. Ketika Ibu, Mbak Mar, dan
si kecil asmara kembali ke rumah dan melihatku aman sentosa,
asmara menangis sesenggukan memelukku, sementara Ibu diam­
diam menjewerku karena tahu aku sedang jahil dan hanya
menghindar dari gangguan asmara. “Dia adikmu satu­satunya,
kau akan menyesal kalau terus­menerus mengganggunya seperti
itu,” ibuku berbisik.
aku mendekati asmara, dan aku berbisik, “Lihat di
kantongmu.”
asmara yang masih menyemprot ingusnya karena mena­
ngis begitu keras lantas merogoh saku celana panjangnya. aku
menyelipkan sebuah memo berisi kode morse tentang bagaimana
cara mencariku. asmara takjub. Dengan air mata yang masih
berleleran dia tersenyum dan memelukku. Sejak itu, asmara
terus­terusan mengajak aku terlibat dalam permainan perburuan
yang akan membuat dia harus mengungkap bagaimana mencari
sesuatu, misalnya: buku baru yang kubelikan untuknya, atau
alat­alat kedokteran mainan yang dibelikan Bapak untuknya,
atau sepotong cokelat kesukaannya. Mungkin itu masa­masa yang
paling melekat di benak kami.
Saat aku duduk di bangku SMa dan asmara di SMP, kami
mulai sibuk dengan urusan masing­masing. asmara dengan ber­
bagai kelompok yang dia ikuti: pramuka, karate, gitar, lab isika,
dan renang. aku lebih sibuk dengan kegiatan fotograi, OSIS, dan
majalah dinding sekolah, serta ikut bergabung dengan diskusi
sastra dan teater Solo. Pilihan ekstrakurikuler kami yang begitu

LeiLa S. cHuDori

67

berbeda inilah yang membuat asmara semakin jengkel. Dengan
Bapak aku bisa banyak bicara soal sastra dan teater; dengan Ibu
aku bisa saling membandingkan hasil foto kami, karena di masa
Ibu kuliah beliau juga senang memotret hitam putih. asmara
merasa kedua orangtua kami lebih bisa memahami apa yang
aku geluti.
Sementara itu keluarga besar Bapak dan Ibu di Solo sudah
bisa melihat bagaimana asmara terdiri atas “otak” dan “nyali”
sedangkan abangnya hanya terdiri dari “otak” dan sebutir ke­
beranian. Karena kami tumbuh menjadi remaja yang sibuknya
melebihi kaum eksekutif, Bapak membuat peraturan bahwa hari
Minggu tak boleh diganggu gugat. Kami harus menyediakan waktu
untuk keluarga: memasak dan makan malam bersama. Tentu saja
persyaratan itu tak selalu mudah kami patuhi mengingat asmara
adalah murid yang populer di kelasnya dan selalu saja menerima
berbagai undangan kegiatan, ulang tahun, berkemah, nonton
bersama, dan acara­acara remaja SMP yang menurutku tak jelas
tujuannya; sedangkan aku lebih banyak berbincang tentang cerita
pendek, puisi, dan teater bersama kawan­kawanku di kelompok­
kelompok sastra dan teater yang tumbuh menjamur di Yogyakarta
dan Solo saat itu. Satu­satunya kegiatan ekstrakurikuler yang harus
kami hadiri bersama adalah les bahasa Inggris di Sala Laboratory
English di kawasan rumah kami di Laweyan. Bapak dan Ibu
ingin betul kami mampu menikmati semua buku dalam bahasa
Inggris dan Indonesia, karena itu sejak sekolah dasar kami sudah
dicemplungkan ke sana.
Meski jadwal kami sepulang sekolah sangat padat, sebisa­
nya kami menggunakan hari Minggu untuk membantu Ibu dan
Mbak Mar ke Pasar Legi, salah satu pasar tempat kami berbelanja

68

Laut Bercerita

bahan masakan untuk katering sekaligus makan malam. Kami
memperhatikan bagaimana Ibu dan Mbak Mar memilih ikan,
ayam, atau daging; bagaimana Mbak langganan kami member­
sihkannya; dan kami juga belajar memperhatikan sayur­sayuran
macam apa yang dibeli Ibu. Di masa kecil kami, asmara biasanya
hanya sabar selama 30 menit pertama dan selebihnya dia pasti
sudah merengek meminta Ibu menuju warung dawet Bu Sari
langganan kami yang luar biasa penuh sesak. Demi mendapat­
kan dawet hijau dan potongan nangka kuning (atau terkadang
dicampur sesendok bubur sumsum) yang disiram dengan santan
segar serta gula aren buatan Bu Sari itu, kami tidak keberatan
antre panjang. Ganjarannya luar biasa. Sampai sekarang, me­
nurutku, kelezatan es dawet Bu Sari belum ada yang menandingi
di tanah air ini.
Terkadang jika Ibu perlu membeli oleh­oleh untuk saudara
di Jakarta, kami diajak ke Pasar Klewer. Itu adalah hari dahsyat
bagi kami berdua, karena biasanya kami akan berdesakan
di tengkleng Bu Edi. Kadang­kadang Ibu memutuskan kami
membeli tengkleng untuk dibawa pulang, tetapi ada saat­saat lain
ketika kami duduk berdempet­dempet dengan para pengunjung
untuk men